Vietnam kini tengah bersiap mengambil langkah besar dalam peta teknologi global. Pemerintah setempat telah menetapkan teknologi kuantum—termasuk komputasi, komunikasi, dan sensor kuantum—sebagai salah satu pilar teknologi strategis nasional. Kebijakan ini diambil guna mendorong pertumbuhan ekonomi baru serta memperkuat pertahanan dan keamanan negara.
Langkah ambisius ini diperkuat oleh Resolusi Politbiro No. 57 yang menyejajarkan teknologi kuantum dengan sektor krusial lainnya seperti kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, jaringan 5G/6G, dan blockchain. Presiden Akademi Sains dan Teknologi Vietnam (VAST), Tran Hong Thai, menekankan bahwa pemahaman teoretis mengenai teknologi masa depan ini harus segera diimplementasikan secara konkret agar tidak kehilangan momentum.
Alasan pertama mengapa Vietnam harus bertindak cepat adalah dinamika pasar global. Menurut Tran Hong Thai, menunggu hingga standar teknologi kuantum mapan dan rantai pasok dikuasai oleh negara-negara adidaya hanya akan menutup peluang Vietnam untuk berkontribusi. Tidak seperti teknologi biasa yang bisa dipelajari setelah produk jadi, teknologi strategis ini menuntut keterlibatan sejak tahap awal pengembangan.
Alasan kedua berkaitan erat dengan keamanan data nasional. Kehadiran komputer kuantum super canggih di masa depan berpotensi mematahkan sistem kriptografi yang digunakan saat ini. Tanpa persiapan keamanan pasca-kuantum sejak dini, data-data sensitif negara yang dikumpulkan hari ini berisiko didekripsi secara ilegal oleh pihak asing di masa mendatang.
Ketiga, teknologi kuantum menjanjikan lompatan kapabilitas dalam berbagai aspek penting, mulai dari sensor presisi tinggi, simulasi material baru, hingga pemrosesan data super cepat. Sektor-sektor vital seperti pertahanan, telekomunikasi, keuangan, layanan kesehatan, hingga pengelolaan energi diproyeksikan akan mengalami revolusi besar berkat penerapan teknologi ini.
Faktor keempat terletak pada persiapan sumber daya manusia. Mencetak talenta ahli di bidang kuantum membutuhkan proses panjang dan pendekatan lintas disiplin ilmu, meliputi fisika, matematika, kriptografi, hingga ilmu komputer. Kebutuhan spesifik ini tidak bisa dipenuhi secara instan hanya melalui pelatihan singkat atau kursus kilat.
Menyikapi tantangan ini, Vietnam memilih pendekatan yang realistis namun tetap proaktif. Dibandingkan bersaing secara frontal dalam perlombaan teknologi dengan negara-negara raksasa, Vietnam memilih fokus pada sektor-sektor kunci yang sesuai dengan kapasitas dalam negeri. Upaya ini diwujudkan melalui kolaborasi erat antarlembaga domestik serta kemitraan riset internasional dengan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, dan Rusia.