Tim peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) berhasil mengembangkan purwarupa senyawa ektoin murni berbasis biologi sintetik. Inovasi yang memanfaatkan bakteri lokal Virgibacillus salarius ini diproyeksikan mampu menekan angka impor bahan baku industri kesehatan dan kosmetik nasional secara signifikan.

Ektoin dikenal sebagai senyawa bernilai tinggi dengan khasiat luar biasa dalam melindungi sel dari kondisi ekstrem, seperti radiasi sinar ultraviolet, suhu tinggi, dan kadar garam yang pekat. Karena manfaatnya tersebut, senyawa ini menjadi bahan baku krusial yang sangat dicari dalam industri perawatan kulit dan medis.

Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Fenny Martha Dwivany, Ph.D., dan Dr. Husna Nugrahapraja ini memecahkan kendala korosi alat industri akibat salinitas tinggi pada produksi ektoin konvensional. Menggunakan metode genome mining, tim mengekstrak materi genetik bakteri simbion koral lunak dari perairan Karimun Jawa, lalu menyisipkannya ke dalam bakteri Escherichia coli. Teknologi biologi sintetik ini terbukti meningkatkan produktivitas hingga 130 kali lipat dibanding metode alami tanpa memerlukan lingkungan bersalinitas tinggi.

Proyek yang didanai melalui Program Inovasi Unggul Berdampak ITB ini juga melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam analisis ekspresi gen dan pemetaan klaster biosintetik. Untuk proses hilirisasi ke ranah komersial, SITH ITB bersinergi dengan Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta mitra industri PT EBM Scitech.

Ke depan, metode eksplorasi berkelanjutan ini tidak hanya menyasar produksi ektoin, melainkan juga senyawa bernilai tinggi lainnya seperti vitamin B12 dan squalene. Pendekatan ramah lingkungan ini diharapkan mampu menjadi pilar baru bagi pengembangan bioindustri nasional yang mandiri tanpa merusak eksosistem laut Indonesia.