Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengintai berbagai wilayah rawan di Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan, seiring dengan datangnya puncak musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Niño ekstrem. Kendati kondisi alam mempercepat kekeringan, sejumlah pakar mengingatkan bahwa aktivitas manusia tetap menjadi pemicu utama munculnya titik api. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan tidak boleh hanya bertumpu pada kesiapan teknologi, melainkan harus menyentuh akar masalah, yakni perubahan perilaku masyarakat.
Dosen Geografi Universitas Indonesia sekaligus Pakar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Asep Karsidi, menjelaskan bahwa data BMKG dan NOAA menunjukkan 76,5 persen zona musim di tanah air telah memasuki kemarau. Situasi ini diperburuk oleh kombinasi El Niño yang kuat serta fenomena Dipol Samudra Hindia (IOD) positif yang menekan curah hujan hingga di bawah normal pada sebagian besar wilayah. Kondisi ekstrem tersebut membuat vegetasi dan lahan gambut menjadi sangat kering dan rentan terbakar, meskipun pemicu awalnya tetap berasal dari tindakan manusia, seperti metode tebas-bakar untuk pembukaan lahan.
Senada dengan hal itu, pakar karhutla Raffles B. Panjaitan menyoroti perlunya aturan yang lebih ketat terkait pengecualian pembukaan lahan secara terbatas bagi masyarakat adat. Regulasi yang mengizinkan pembakaran maksimal dua hektare per kepala keluarga untuk varietas lokal harus diawasi dengan ketat di lapangan, lengkap dengan pembuatan sekat bakar. Raffles menegaskan bahwa aturan tersebut bukan merupakan lampu hijau untuk membakar lahan secara bebas saat cuaca ekstrem, mengingat dampaknya yang bisa meluas tak terkendali.
Tantangan lain di lapangan adalah adanya resistensi dari sebagian warga atau kelompok yang membatasi akses tim pemadam kebakaran, seperti Manggala Agni, TNI, dan Polri, dengan alasan konflik lahan atau klaim hak adat. Mengatasi masalah ini, Pakar Komunikasi Keberlanjutan yang juga Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof. Anter Venus, menyarankan penerapan strategi komunikasi partisipatif. Alih-alih menyudutkan masyarakat adat, petugas harus merangkul tokoh adat, tokoh agama, serta pemuda setempat untuk menyebarkan edukasi mitigasi bencana menggunakan bahasa lokal yang persuasif.
Pada akhirnya, keberhasilan mitigasi karhutla di tengah musim kemarau panjang ini sangat bergantung pada sinergi di tingkat tapak. Upaya sistematis seperti patroli terpadu, pembasahan lahan gambut, penyediaan embung air, hingga keterbukaan akses bagi tim pemadam kebakaran menjadi langkah mutlak untuk melindungi kelestarian lingkungan sekaligus keselamatan masyarakat luas.