Desain bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang diusung oleh Agrinas kini tengah menjadi sorotan tajam dari kalangan arsitek. Kritik utama yang muncul bukan sekadar tertuju pada estetika fisik, melainkan pada pendekatan desain yang dianggap terlalu seragam dan kurang mempertimbangkan keunikan potensi serta karakter ekonomi masing-masing desa di Indonesia.
Arsitek dari Dreamlabs Architects, Yoval Julianto, menilai bahwa konsep desain yang dirilis tersebut cenderung melakukan generalisasi terhadap kondisi pedesaan. Menurut Yoval, koperasi seharusnya menjadi entitas usaha yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat setempat, bukan dipaksakan ke dalam satu pola arsitektur yang sama di semua wilayah.
Berdasarkan analisisnya, bangunan dengan luas 600 meter persegi tersebut lebih menyerupai gudang raksasa ketimbang pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dominasi ruang penyimpanan yang mencapai sebagian besar total luas area, berbanding terbalik dengan ruang pelayanan masyarakat yang justru sangat terbatas. Hal ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas fungsi bangunan jika diterapkan di desa yang tidak memiliki basis ekonomi pertanian.
Yoval menekankan bahwa kegagalan memahami diversitas ekonomi di tingkat desa berisiko menjadikan koperasi tersebut sekadar toko kelontong yang menjual barang pabrikan, alih-alih menjadi wadah bagi produk hasil usaha warga lokal. Ia mempertanyakan relevansi desain tersebut bagi desa-desa yang mata pencaharian warganya bergerak di sektor jasa atau bidang lainnya.
Meski memberikan kritik keras, Yoval memberikan masukan konstruktif bahwa ruang gudang yang luas tersebut masih dapat dioptimalkan. Ia menyarankan agar fungsi ruang bisa lebih fleksibel dan dikreasikan menjadi fasilitas multifungsi yang produktif, sehingga keberadaan gedung koperasi tetap mampu memberikan kontribusi nyata bagi pendapatan asli desa di luar sektor pertanian.