Program ambisius pemerintah dalam mendirikan 80.000 unit Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di seluruh Indonesia kini menghadapi kritik dari perspektif arsitektur. Sejumlah ahli menilai bahwa desain bangunan yang dipukul rata tersebut mengabaikan karakteristik ekonomi unik yang dimiliki oleh setiap daerah di Tanah Air.
Yoval Julianto, arsitek dari Dreamlabs Architects, menyoroti komposisi ruang dalam bangunan KDMP yang dinilai kurang proporsional. Berdasarkan analisis denah, bangunan seluas 600 meter persegi tersebut didominasi oleh area gudang yang sangat besar, sementara ruang untuk gerai koperasi dan praktik layanan kesehatan hanya menempati porsi yang relatif kecil.
"Mayoritas bangunan justru difungsikan sebagai gudang. Pertanyaannya, gudang sebesar itu untuk menyimpan apa? Jika diperuntukkan bagi komoditas pertanian seperti pupuk atau hasil bumi, hal tersebut mungkin bisa dipahami. Namun, tidak semua desa di Indonesia berbasis sektor agraris," ujar Yoval.
Lebih lanjut, Yoval menjelaskan bahwa banyak desa di Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang berbasis pada sektor jasa, pariwisata, perdagangan, maupun industri kreatif. Penggunaan desain yang bersifat 'satu untuk semua' (template) dikhawatirkan membuat bangunan tersebut tidak berfungsi optimal sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat setempat.
Selain masalah fungsionalitas, keterbatasan lahan di wilayah-wilayah strategis juga menjadi catatan serius. Desain yang kaku dengan luas total 600 meter persegi berisiko memaksa pembangunan di lokasi yang kurang ideal, seperti di area lereng atau lahan yang jauh dari jangkauan warga, demi memenuhi standar ukuran yang telah ditetapkan.
Yoval menekankan bahwa koperasi bukanlah tipologi bangunan yang kaku. Ia menyarankan pemerintah agar lebih fleksibel dalam menentukan rancang bangun, sehingga setiap koperasi benar-benar mencerminkan corak ekonomi daerah masing-masing dan bukan sekadar menjadi toko kelontong dengan produk pabrikan yang seragam.