Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menjajaki penerapan teknologi konversi air laut menjadi air tawar (desalinasi) sebagai solusi darurat pemenuhan kebutuhan air bersih di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini diambil menyusul kerusakan parah pada ratusan infrastruktur vital penyedia air bersih akibat guncangan gempa bumi di wilayah tersebut, khususnya di Pulau Palue.

Menteri PU, Dody Hanggodo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi secara intensif dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mencari alternatif teknologi yang efisien. Upaya kolaboratif ini dibahas dalam Rapat Koordinasi bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Sikka guna mempercepat penanganan pascabencana.

Kondisi geografis Pulau Palue yang terisolasi dan memiliki gunung berapi aktif menjadi tantangan berat dalam pencarian sumber air tanah baru. Menurut Dody, teknologi pengolahan air laut dinilai sebagai jalan keluar yang paling realistis dan cepat untuk memulihkan layanan dasar bagi masyarakat setempat.

Berdasarkan data terkini, gempa tersebut merusak sedikitnya 495 prasarana air bersih di Kabupaten Sikka, dengan 481 unit di antaranya dikategorikan rusak berat. Kerusakan paling parah melanda Bak Penampung Air Hujan (BPAH) di Kecamatan Palue yang selama ini menjadi tumpuan utama warga untuk mendapatkan air konsumsi.

Selain krisis air, sektor sanitasi juga mengalami dampak signifikan dengan kerusakan pada 302 unit fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) dari total 371 sarana yang terdampak. Kementerian PU memastikan pemulihan kedua sektor krusial ini berjalan beriringan demi mencegah munculnya masalah kesehatan baru di pengungsian.

Dody menegaskan bahwa langkah cepat ini merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto agar pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak bencana diprioritaskan. Pemerintah berkomitmen penuh untuk hadir di tengah masyarakat guna memastikan pemulihan pascabencana berjalan optimal.