Pasar saham Korea Selatan tengah menghadapi guncangan hebat menyusul koreksi tajam pada sektor teknologi yang sebelumnya melonjak akibat demam kecerdasan buatan (AI). Raksasa cip memori dunia seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang sempat mendominasi pergerakan indeks saham lokal, kini mencatatkan penurunan nilai saham hingga lebih dari 30 persen dari titik tertingginya. Fenomena ini memicu pertanyaan besar di kalangan investor mengenai keberlanjutan tren AI dalam jangka panjang.
Dominasi Korea Selatan dalam industri semikonduktor memang tidak diragukan lagi. Bersama perusahaan asal Amerika Serikat, Micron, duo raksasa Korsel memonopoli pasar DRAM global serta menguasai hampir separuh pasar memori NAND. Pertumbuhan masif ini sebelumnya sempat melambungkan harga saham Samsung sebesar 113 persen sejak awal tahun dan SK Hynix sebesar 183 persen. Namun, optimisme tersebut kini mulai mereda seiring dengan kekhawatiran pasar terkait realisasi pendapatan dari investasi infrastruktur AI yang bernilai miliaran dolar.
Selain kekhawatiran atas pengembalian investasi teknologi, kebijakan moneter dalam negeri turut menekan pasar keuangan. Bank sentral Korea Selatan memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Langkah ini secara langsung menekan minat investor pada aset berisiko. Tekanan kian bertambah setelah MSCI mempertahankan status pasar saham Korea Selatan sebagai pasar berkembang (emerging market), yang membatasi alokasi dana dari pengelola indeks global.
Di sisi lain, ancaman kompetisi dari produsen asal Tiongkok, seperti ChangXin Memory Technologies (CXMT), mulai membayangi pangsa pasar produsen petahana. Kendati demikian, prospek jangka panjang sektor ini dinilai masih menjanjikan. Kebutuhan akan cip High Bandwidth Memory (HBM) untuk peladen AI tetap krusial, menunjukkan bahwa meski fluktuasi jangka pendek tidak terhindarkan, fundamental industri semikonduktor Korea Selatan tetap solid.