Bencana alam sering kali menyisakan trauma mendalam, khususnya bagi anak-anak. Menyadari hal tersebut, Universitas Syiah Kuala (USK) berkolaborasi dengan Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta (PKKHY) untuk merancang sebuah model pemulihan kesehatan mental berbasis komunitas bagi anak-anak pascabencana di Provinsi Aceh.

Penelitian kolaboratif ini berlangsung pada 19 hingga 26 Juli 2026 dengan melibatkan 1.300 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Aceh Tamiang sebagai responden. Tim peneliti menerapkan pendekatan metode campuran (mixed methods) guna memformulasikan model intervensi psikososial yang selaras dengan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat lokal Aceh.

Ketua Tim Peneliti, Dr. Sumarti Endah, PMM, menjelaskan bahwa riset ini merupakan wujud nyata kontribusi akademisi dalam menghadirkan solusi kesehatan masyarakat berbasis bukti ilmiah (evidence-based). Data komprehensif dari ribuan responden ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk merumuskan kebijakan preventif dan promotif terkait kesehatan jiwa anak secara berkelanjutan.

Proyek ilmiah bertajuk SAMUDRA (Support for Adaptive Mental Health using Disaster Recovery Approach) ini didanai melalui hibah Penelitian Kerjasama Perguruan Tinggi (PKPT) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Inisiatif ini juga memperkuat komitmen kerja sama yang sebelumnya telah disepakati melalui nota kesepahaman antara USK dan PKKHY.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keperawatan USK sekaligus anggota tim riset, Prof. Dr. Teuku Tahlil, S.Kp., M.S., menegaskan pentingnya keterlibatan ekosistem terdekat anak. Menurutnya, pemulihan psikologis anak pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan penanganan klinis, melainkan harus mengintegrasikan peran aktif keluarga, sekolah, dan komunitas sekitar sebagai sistem pendukung utama.

Melalui model SAMUDRA, tim peneliti berharap dapat menghasilkan panduan praktis yang mudah diimplementasikan oleh guru, tenaga kesehatan, serta pemerintah daerah. Dengan sejarah panjang Aceh dalam menghadapi berbagai bencana, model ini diharapkan mampu memperkokoh ketahanan psikososial masyarakat dan siap direplikasi di wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia.