Jakarta - Kekhawatiran terhadap potensi gejolak politik, yang sering kali dikaitkan dengan wacana Reformasi Jilid II, dinilai masih bisa diantisipasi secara efektif oleh pemerintah dan berbagai unsur masyarakat. Upaya pencegahan yang dilakukan sejak dini, disertai kerja sama lintas elemen bangsa, menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas nasional di tengah tantangan ekonomi dan sosial yang terus berkembang.

Berbagai pengamat dan tokoh politik menegaskan bahwa kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dengan situasi menjelang Reformasi 1998. Mereka menyoroti semakin terbukanya sistem demokrasi, luasnya ruang partisipasi publik, dan berjalannya mekanisme politik yang mampu menjadi saluran aspirasi sekaligus meredam potensi ketegangan sosial yang lebih besar.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, menyampaikan keyakinannya bahwa berbagai faktor pemicu instabilitas politik masih berada dalam koridor yang bisa dikelola pemerintah. "Raison d'etre atau alasan keberadaan gejolak politik itu masih bisa dicegah. Pemerintah masih bisa mengendalikan keadaan," ujarnya dalam keterangannya, Minggu (14/6/26).

Sarmuji menegaskan adanya perbedaan mendasar antara kondisi saat ini dengan dua dekade lalu, baik dari sisi ekonomi maupun politik. "Kalau dulu ada krisis ekonomi yang sangat berat, sekarang ekonomi kita masih tumbuh. Kalau dulu kebebasan politik dibatasi, sekarang ruang demokrasi sangat terbuka. Jadi saya melihat situasinya tidak sama," jelasnya. Penilaian sejalan dengan kajian yang menyebutkan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional telah memberikan daya tahan kuat terhadap tekanan global.

Sementara itu, menanggapi ultimatum dari sebagian kelompok mahasiswa dalam aksi di Jawa Tengah, sejumlah organisasi kepemudaan mengajak masyarakat untuk mengedepankan pendekatan konstruktif dan solutif. Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Jawa Tengah, Udin, menekankan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi kebutuhan utama saat ini.

"Yang dibutuhkan saat ini bukan saling menyalahkan, melainkan gotong royong seluruh elemen bangsa," tegas Udin. Ia menambahkan kolaborasi antar kelompok masyarakat merupakan fondasi penting untuk memperkuat ketahanan nasional. Kontribusi mahasiswa dan masyarakat dinilai lebih berdampak jika diarahkan pada penyampaian gagasan, kritik membangun, dan solusi aplikatif.

Udin mengajak berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, pemuda, pekerja, petani, pelaku UMKM, akademisi, hingga pemerintah, untuk bersama-sama memperkuat ekonomi nasional. "Kritik tetap penting, tetapi harus mampu mendorong solusi dan optimisme bagi masa depan bangsa," imbuhnya. Dukungan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan, soliditas koalisi politik, dan kondisi keamanan nasional yang terjaga menjadi modal penting dalam mempertahankan stabilitas negara, sehingga optimisme menghadapi tantangan secara demokratis dan damai tetap terpelihara.