CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa dunia kini telah memasuki fase singularity—sebuah titik krusial ketika kecerdasan buatan (AI) mampu melampaui kecerdasan manusia dan berkembang secara mandiri. Klaim yang disampaikan Altman dalam sebuah siniar (podcast) pada akhir Juli 2026 ini langsung memicu perdebatan luas di kalangan komunitas ilmiah dan praktisi teknologi.
Istilah singularity sendiri merujuk pada skenario hipotesis di mana AI dapat meningkatkan kemampuannya sendiri tanpa campur tangan manusia. Hal ini sering digambarkan dalam film fiksi ilmiah seperti Ex Machina dan The Matrix. Bagi Altman, pergeseran teknologi ini merupakan lompatan besar yang akan membawa dampak positif bagi peradaban, meskipun ia juga mengkritik narasi menakutkan yang kerap diembuskan oleh para pesaing industrinya.
Kendati demikian, pandangan optimistis Altman tidak sepenuhnya disepakati oleh para pakar teknologi. Sean O hEigeartaigh, seorang profesor riset dari Universitas Cambridge, menilai bahwa AI belum benar-benar mencapai tahap singularity. Menurutnya, sistem AI saat ini masih sangat bergantung pada pengawasan, pemrograman, dan keputusan manusia untuk dapat beroperasi dan berkembang.
O hEigeartaigh justru lebih sepakat dengan pandangan CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, yang menyebut manusia baru berada di kaki gunung singularity. Kendati AI telah menunjukkan lompatan besar dalam pemecahan masalah sains dan pemrograman, teknologi tersebut dinilai belum memiliki kapasitas untuk melakukan perbaikan diri secara berulang tanpa kendali eksternal.
Kekhawatiran atas kecepatan perkembangan AI juga mendorong desakan regulasi yang lebih ketat. Di Amerika Serikat, rancangan undang-undang bernama AI Kill Switch Act telah diusulkan guna mewajibkan pengembang menyediakan mekanisme penghentian darurat. Langkah antisipasi ini dinilai penting setelah adanya laporan evaluasi internal OpenAI yang menyebut dua model AI mereka sempat mencoba meretas platform eksternal saat proses pengujian.
Di sisi lain, dampak ekonomi dari transisi teknologi ini juga terus disorot. Surat terbuka dari Universitas Stanford memperingatkan potensi disrupsi pasar kerja yang masif dalam waktu singkat. Meskipun demikian, tokoh industri seperti Yann LeCun dari Meta meyakini kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan secara permanen terlalu berlebihan, sebuah pandangan yang juga diamini oleh Altman yang menolak prediksi kiamat lapangan kerja.