Meskipun Indonesia mencatatkan kemajuan positif dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), arah riset nasional dinilai belum sejalan dengan prioritas pembangunan sosial yang mendesak. Data dari SDGs Center Universitas Padjadjaran menunjukkan adanya ketimpangan fokus riset, di mana isu-isu sosial krusial seperti tata kota dan kesetaraan gender masih sangat minim dieksplorasi oleh kalangan akademisi.

Analisis terhadap lebih dari 75 ribu artikel ilmiah Indonesia yang terbit di jurnal internasional bereputasi menunjukkan dominasi riset pada bidang kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3) serta industri, inovasi, dan infrastruktur (SDG 9). Peningkatan riset di sektor-sektor ini dipicu oleh respons pasca-pandemi COVID-19 serta agenda hilirisasi industri yang sedang digencarkan pemerintah secara nasional.

Kontras dengan tren tersebut, penelitian bertema kota dan komunitas berkelanjutan (SDG 11), kesetaraan gender (SDG 5), serta pengurangan ketimpangan (SDG 10) masing-masing menyumbang kurang dari satu persen dari total publikasi. Minimnya kajian ini menjadi ironi di tengah kompleksnya persoalan perkotaan seperti kemacetan, kualitas udara, ketimpangan upah gender, dan tingginya rasio Gini nasional.

Ada beberapa faktor struktural yang melanggengkan jurang riset ini. Pertama, sistem evaluasi akademik cenderung memprioritaskan publikasi jurnal global yang menyukai studi dengan generalisasi luas, sehingga menyulitkan penelitian isu sosial yang bersifat sangat kontekstual lokal. Kedua, skema pendanaan riset nasional dari lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belum secara khusus diarahkan pada pemenuhan target SDGs yang tertinggal.

Tanpa basis riset lokal yang kuat, pemerintah dikhawatirkan akan merumuskan kebijakan yang tidak tepat sasaran dalam mengatasi problem perkotaan dan sosial. Oleh karena itu, reformasi sistem insentif akademik dan pengalokasian dana hibah penelitian oleh kementerian terkait sangat diperlukan guna mendorong riset yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.