Gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memberikan dampak langsung terhadap pasar energi global. Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan signifikan menyusul memanasnya kembali situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Data pasar menunjukkan minyak mentah berjangka Brent melonjak sebesar US$ 2,34 atau sekitar 3,08 persen ke level US$ 78,35 per barel. Tren serupa juga dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat yang menguat US$ 2,21 atau 3,09 persen, sehingga bertengger di harga US$ 73,62 per barel.
Ketidakpastian situasi diperparah oleh pernyataan yang kontradiktif antara pihak Washington dan Teheran mengenai akses lalu lintas di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat aktivitas pelayaran di kawasan tersebut menurun drastis; tercatat hanya enam kapal yang melintas pada hari Minggu lalu, yang merupakan volume terendah dalam lima pekan terakhir.
Situasi ini pun membayangi keberlanjutan perjanjian damai sementara yang baru saja diteken bulan lalu. Meski International Energy Agency sempat melaporkan adanya pemulihan pasokan minyak dunia sebesar 4,1 juta barel per hari pasca-kesepakatan, angka tersebut masih berada jauh di bawah level pra-perang.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai kenaikan harga saat ini masih mencerminkan reaksi pasar terhadap gencatan senjata yang rapuh. Menurutnya, pelaku pasar saat ini masih cenderung bersikap waspada sambil menantikan kepastian apakah eskalasi ini akan meruntuhkan kesepakatan damai sepenuhnya atau hanya bersifat sementara.