Integrasi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) serta Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi (DEI) kini bukan lagi sekadar tren administratif. Dalam ajang The 5th Indonesia DEI & ESG Awards (IDEAS) 2026 di Jakarta, Founder & Director Infinity Continuity, Gary Ng, menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut harus menjadi fondasi operasional dalam strategi ketahanan bisnis atau Business Continuity Management (BCM).

Menurut Gary, banyak organisasi masih terjebak pada pengarsipan dokumen kebijakan yang rapi di atas kertas, namun gagal menerapkannya saat menghadapi situasi darurat nyata. Ia mengingatkan bahwa krisis—baik berupa bencana alam, serangan siber, maupun disrupsi teknologi—adalah ujian sebenarnya bagi komitmen organisasi terhadap ESG dan DEI.

"Ketahanan organisasi tidak diukur dari dokumen laporan berkelanjutan yang diterbitkan, melainkan dari bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan, menjaga transparansi komunikasi, dan mempertahankan kualitas layanan saat berada di bawah tekanan besar," ungkapnya dalam sesi diskusi tersebut.

Data dari white paper Business Continuity Institute (BCI) tahun 2025 mendukung urgensi ini, di mana tercatat hanya 13 persen organisasi yang telah mengintegrasikan aspek DEI ke dalam rencana ketahanan bisnis mereka. Padahal, sekitar 60 persen responden meyakini bahwa keragaman dalam tim justru menjadi kunci utama dalam memperkuat daya tahan organisasi saat menghadapi krisis.

Gary menyimpulkan bahwa ESG mencerminkan nilai yang dianut organisasi, sedangkan DEI merepresentasikan bagaimana organisasi menghargai aspek kemanusiaan. Adapun BCM menjadi alat pembuktian apakah komitmen-komitmen tersebut mampu bertahan dan tetap dijalankan secara nyata saat organisasi menghadapi ancaman keberlangsungan usaha yang paling kritis.