Kementerian Koperasi secara resmi telah melakukan evaluasi mendalam terhadap kurikulum pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdeskel) Merah Putih. Langkah ini diambil setelah berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, yang menghasilkan perubahan signifikan pada format pelatihan agar lebih relevan dengan kebutuhan lapangan.

Dalam format terbaru, masa pelatihan diperpanjang untuk memberikan ruang bagi pengembangan kapasitas personal. Selain fokus pada materi inti seperti manajemen keuangan dan sistem perkoperasian yang memakan waktu 15 hari dari total 45 hari pelatihan, peserta kini dibekali dengan keterampilan lunak (soft skill) serta teknik interaksi sosial yang krusial bagi seorang pemimpin di tingkat desa.

Ferry, perwakilan dari kementerian, menegaskan bahwa keberhasilan Kopdeskel Merah Putih tidak lagi hanya diukur dari infrastruktur fisik atau kelengkapan stok barang. Ia menekankan bahwa kapabilitas manajer adalah variabel penentu utama. Seorang manajer dituntut bertindak layaknya seorang CEO yang mampu merancang model bisnis dan studi kelayakan yang komprehensif.

Lebih lanjut, para calon manajer diwajibkan untuk menguasai pengelolaan berbagai unit bisnis, mulai dari sektor ritel, keuangan mikro, logistik, hingga penyediaan layanan kesehatan seperti gerai obat dan klinik. Fokus utama dari seluruh program ini adalah memastikan agar setiap unit Kopdeskel Merah Putih mampu beroperasi secara mandiri, profesional, dan memberikan keuntungan (profit) bagi ekosistemnya.