Kehadiran delegasi Arab Saudi dalam upacara penghormatan terakhir mendiang Ali Khamenei di Teheran, Jumat (3/1/2026), menjadi sorotan tajam komunitas internasional. Delegasi yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Walid Al-Khuraiji tersebut hadir di tengah dinamika hubungan kedua negara yang sebelumnya sempat menegang akibat perbedaan posisi strategis terkait keamanan di kawasan Teluk.

Momen ini semakin menyita perhatian publik setelah pihak penyelenggara di Iran memilih melantunkan QS Ali Imran ayat 13. Ayat tersebut menceritakan kisah Pertempuran Badr antara kaum Muslimin dan pihak lawan. Penggunaan ayat ini memicu diskursus luas di media sosial, di mana banyak pihak menginterpretasikannya sebagai bentuk sindiran atau peringatan simbolis dari Teheran terhadap delegasi Saudi yang hadir di sana.

Selain delegasi Arab Saudi, sejumlah perwakilan negara sahabat dan organisasi internasional turut hadir memberikan penghormatan terakhir. Di antaranya adalah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, serta utusan dari Hamas, Hizbullah, dan pemerintah Taliban. Indonesia juga turut berpartisipasi dengan mengutus Duta Besar RI di Teheran.

Prosesi penghormatan ini direncanakan berlangsung selama enam hari dan melibatkan perjalanan menuju Irak sebelum pemakaman dilaksanakan. Di Teheran, suasana berkabung tampak kental dengan ribuan pelayat yang memadati halaman Grand Mosalla. Kehadiran bendera merah di lokasi upacara menjadi simbol kuat bagi para pendukung Khamenei yang menyuarakan seruan balas dendam dan komitmen terhadap perjuangan sang pemimpin.