Sektor properti tengah mengalami fase seleksi alam yang cukup keras di paruh pertama tahun 2026. Data terbaru dari Kantor Statistik Umum menunjukkan bahwa sebanyak 1.463 perusahaan properti terpaksa membubarkan diri, melonjak drastis sebesar 120,3% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Angka ini mencerminkan tingginya tekanan bagi pelaku usaha yang memiliki keterbatasan arus kas dan minimnya pasokan di tengah pasar yang semakin kompetitif.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya jumlah perusahaan yang memilih untuk menangguhkan kegiatan operasional mereka. Tercatat ada 2.971 bisnis yang mengambil langkah serupa, sementara gairah pelaku usaha baru tetap ada dengan munculnya 3.192 entitas baru di pasar. Fenomena ini mengindikasikan bahwa meski pelaku bisnis baru terus bermunculan, kemampuan untuk bertahan di tengah gejolak ekonomi menjadi tantangan utama bagi pemain properti saat ini.
Kontras dengan kondisi lokal yang lesu, minat investor asing justru menunjukkan tren positif. Realisasi Penanaman Modal Asing (FDI) di sektor properti menyentuh angka US$5,1 miliar atau menempati posisi kedua setelah industri manufaktur. Namun, para analis menilai bahwa masuknya modal asing ini lebih menyasar pada proyek-proyek strategis berskala besar untuk jangka panjang, bukan sebagai indikator pemulihan pasar properti secara menyeluruh.
Di sisi lain, daya beli domestik masih menjadi titik lemah. Berdasarkan data dari Batdongsan.com.vn, minat beli properti pada Mei lalu merosot sekitar 5%. Kepercayaan konsumen kini berada di titik rendah, di mana hanya 17% dari responden survei yang berniat melakukan transaksi dalam enam bulan ke depan. Sebagian besar masyarakat memilih untuk bersikap pasif dan memantau pergerakan pasar setidaknya hingga satu tahun ke depan sebelum memutuskan untuk berinvestasi.