Kecerdasan buatan (AI) telah ditetapkan sebagai inovasi paling transformatif dalam dunia perkantoran modern oleh para pemimpin bisnis global. Temuan ini tertuang dalam laporan komprehensif bertajuk “IWG: 300 Years of Office Innovation” yang dirilis untuk merayakan tiga abad evolusi tempat kerja sejak berdirinya kantor formal pertama di London pada tahun 1726.
International Workplace Group (IWG) menempatkan AI di urutan teratas sebagai pendorong utama revolusi teknologi saat ini, diikuti oleh perangkat laptop dan tablet, teknologi konferensi video, konektivitas nirkabel, serta model kerja hibrida. Bagi para CEO, pergeseran yang didorong oleh AI memiliki bobot signifikansi yang setara dengan penemuan bersejarah seperti mesin tik atau internet yang sempat mendefinisikan cara kerja pada era 1990-an.
Executive Chairman IWG, Mark Dixon, menegaskan bahwa adopsi AI merupakan salah satu lompatan paling signifikan dalam sejarah panjang dunia kerja. Menurutnya, dekade 2020-an menjadi periode yang paling dinamis, di mana perpaduan antara otomatisasi, fleksibilitas kerja, dan dukungan teknologi memungkinkan karyawan untuk menjalankan tugas mereka dari mana saja secara lebih efektif.
Survei tersebut juga menyoroti perubahan pola pikir para pemimpin bisnis terhadap efisiensi. Sekitar 83% CEO meyakini bahwa evolusi cara kerja terkini memberikan dampak positif yang nyata, terutama dalam hal peningkatan kolaborasi dan produktivitas organisasi. Meski teknologi terus berkembang pesat dan menyisakan kesenjangan pengetahuan bagi generasi muda terkait perangkat jadul seperti disket atau mesin faks, optimisme terhadap masa depan tempat kerja tetap menjadi sentimen dominan di kalangan pemimpin industri saat ini.