Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di beberapa wilayah Indonesia memicu krisis kesehatan masyarakat yang serius. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten dan kota kini terpapar langsung kabut asap pekat. Dampaknya, angka penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak drastis dan mengganggu aktivitas harian warga secara signifikan.

Di Provinsi Riau, kualitas udara memburuk hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Konsentrasi partikel debu halus PM2.5 di wilayah ini dilaporkan menyentuh angka 235,7 mikrogram per meter kubik, atau lebih dari 15 kali lipat dari batas aman harian yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Akibat jarak pandang yang merosot hingga 500 meter dan ancaman kesehatan yang nyata, sejumlah wilayah seperti Kabupaten Pelalawan terpaksa memindahkan aktivitas belajar-mengajar ke metode daring.

Kondisi tidak kalah memprihatinkan terjadi di Palembang, Sumatra Selatan. Jarak pandang di ibu kota provinsi tersebut sempat menyusut ekstrem hingga hanya 20 meter pada titik terparah karhutla. Dengan kualitas udara yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat, Dinas Kesehatan setempat mencatat akumulasi kasus ISPA telah melampaui angka 99.000 kasus sepanjang tahun ini, dengan lonjakan tajam terjadi selama bulan Agustus.

Sementara itu di Kalimantan, kepungan kabut asap tebal mulai mengacaukan sektor transportasi udara yang berujung pada pembatalan puluhan jadwal penerbangan. Dari sisi kesehatan, fasilitas medis di Kalimantan Barat mendeteksi adanya kenaikan kunjungan pasien ISPA hingga sepuluh kali lipat di instalasi gawat darurat sejak Juli lalu. Karakteristik lahan gambut yang mendominasi area terbakar mempersulit upaya pemadaman total oleh petugas di lapangan.

Guna menanggulangi dampak bencana ini, Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah mulai mendistribusikan ratusan ribu masker medis serta obat-obatan penunjang ke lokasi terdampak. Posko kesehatan darurat yang beroperasi selama 24 jam kini disiagakan, dibantu dengan pengerahan ratusan tenaga medis tambahan yang difokuskan pada wilayah terdampak paling parah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.