Jakarta — Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menegaskan bahwa masa depan umat Islam tidak cukup dibangun hanya dengan kekuatan pemahaman keagamaan. Menurutnya, kemajuan teknologi, penguasaan sains, serta kemandirian ekonomi harus menjadi bagian penting dari arah pendidikan Islam modern.
Pesan tersebut disampaikan Jusuf Kalla saat menjadi pembicara utama dalam International Seminar and The 15th Annual General Meeting The Asian Islamic Universities Association (AIUA) di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Di hadapan ratusan delegasi akademik internasional, tokoh yang akrab disapa JK itu mendorong perguruan tinggi Islam untuk melakukan pembaruan paradigma. Ia menilai lembaga pendidikan Islam perlu semakin serius memadukan ilmu agama dengan kemampuan teknologi, inovasi, dan kewirausahaan.
“Kekuatan kita tidak akan maksimal jika hanya bertumpu pada aspek agama saja tanpa kemajuan teknologi dan ekonomi. Ekonomi yang kuat adalah fondasi bagi keberlangsungan dakwah dan sosial. Kita harus belajar dari model pendidikan yang mampu menyandingkan agama dengan kemajuan sains,” ujar Jusuf Kalla.
JK juga mengingatkan bahwa sebuah bangsa atau peradaban akan sulit mencapai kemajuan nyata apabila tidak memiliki basis teknologi yang matang dan budaya kewirausahaan yang kuat. Dalam persaingan global, kata dia, kemampuan menciptakan nilai ekonomi dan inovasi menjadi syarat penting agar umat Islam tidak tertinggal.
Dalam forum akademik Islam tingkat Asia tersebut, Jusuf Kalla turut mengajak para pimpinan perguruan tinggi memaknai kembali doa yang populer di kalangan umat Islam, yakni permohonan kebaikan di dunia dan akhirat. Menurutnya, doa itu seharusnya diterjemahkan dalam tindakan konkret untuk membangun kualitas hidup, ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan.
Ia berpandangan, kebaikan duniawi yang lahir dari pendidikan bermutu, kemajuan ekonomi, dan penguasaan sains dapat menjadi modal penting bagi umat Islam dalam memperkuat kontribusi sosial sekaligus meraih tujuan spiritual yang lebih luas.
Selain menyoroti teknologi dan ekonomi, JK menekankan pentingnya peran kampus Islam Asia dalam menyerukan perdamaian dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa suara perdamaian akan lebih diperhitungkan apabila didukung oleh kekuatan intelektual, jejaring akademik yang solid, serta kemandirian ekonomi.
Pandangan tersebut mendapat tanggapan positif dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Presiden AIUA, Prof. Asep Saepudin Jahar. Ia menyatakan bahwa perguruan tinggi Islam memang perlu berani melakukan transformasi, termasuk menghapus sekat yang memisahkan ilmu agama dari sains dan teknologi.
“UIN Jakarta berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya mendalami ilmu keagamaan secara mendalam, tetapi juga menguasai teknologi dan memiliki semangat kewirausahaan yang moderat, humanis, serta solutif terhadap problematika global,” kata Prof. Asep.
Menurut Prof. Asep, gagasan penguatan ekonomi dan inovasi teknologi yang disampaikan Jusuf Kalla sejalan dengan agenda transformasi UIN Jakarta. Saat ini, kampus tersebut tengah berada dalam tahap akhir menuju status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).
Forum AIUA 2026 diikuti sekitar 150 hingga 200 delegasi dari 40 perguruan tinggi Islam di tujuh negara Asia, antara lain Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Pertemuan tahunan ke-15 ini dijadwalkan berlangsung hingga 25 Juni 2026 untuk merumuskan Rencana Strategis AIUA 2026–2028.