Di balik megahnya proyek infrastruktur air bernilai miliaran rupiah di pusat Kota Batam, ironi mendalam justru dirasakan oleh masyarakat di kawasan hinterland. Warga Pulau Jaloh yang terletak di Kelurahan Pantai Gelam, Kecamatan Bulang, kini harus berjuang keras demi mendapatkan setetes air bersih akibat sumur-sumur warga dan waduk penampungan yang mulai mengering.

Setiap hari, warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan ini terpaksa mengantre di satu-satunya sumur buatan yang debit airnya terus menyusut. Untuk mengisi beberapa jeriken, mereka harus rela bersabar hingga berjam-jam demi menunggu rembesan air muncul kembali dari dasar sumur yang sudah bercampur pasir.

Kondisi memprihatinkan ini disaksikan langsung oleh Icam, seorang warga pendatang yang sedang beraktivitas di pulau tersebut. Ia mengungkapkan bahwa keterbatasan air bersih membuat warga tidak memiliki pilihan selain menggunakan air keruh berpasir untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Bahkan, demi menghemat pasokan, sebagian warga terpaksa membatasi diri dengan hanya mandi sekali dalam sehari.

Krisis ini kian diperparah oleh tidak berfungsinya waduk penampungan yang sebelumnya dibangun oleh pemerintah setempat. Waduk tersebut kini telah kering kerontang dan tidak lagi mampu menyuplai air bagi kebutuhan domestik warga. Masyarakat pun sangat berharap adanya bantuan segera dari pemerintah daerah untuk mengatasi krisis air yang kian mencekik ini.

Kondisi di Pulau Jaloh menjadi cerminan nyata ketimpangan pembangunan antara kawasan perkotaan Batam dan pulau-pulau penyangga di sekitarnya. Ketika polemik pengelolaan bisnis air di perkotaan terus menjadi perdebatan hangat, hak dasar masyarakat hinterland akan akses air bersih yang layak justru seolah terabaikan dan membutuhkan penanganan yang berkelanjutan.