Iran mengumumkan pencapaian signifikan dalam bidang komputasi biologis setelah berhasil memproduksi prototipe laboratorium teknologi otak buatan. Pencapaian ini diungkapkan oleh Ataollah Pour-Abbasi, Sekretaris Staf Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kognitif Iran, yang menyatakan bahwa sebuah perusahaan rintisan berbasis pengetahuan di negara tersebut telah berhasil menguasai pengetahuan teknis untuk mengembangbiakkan sel-sel saraf dalam kultur laboratorium di luar tubuh manusia.

Teknologi yang dikenal sebagai "Kecerdasan Organoid" (Organoid Intelligence) ini muncul sebagai respons terhadap tantangan fundamental yang dihadapi industri komputasi global. Keterbatasan fisik chip silikon dan tingginya konsumsi energi sistem kecerdasan buatan modern telah mendorong komunitas ilmiah internasional mencari arsitektur pemrosesan alternatif. Berbeda dengan prosesor elektronik konvensional, pendekatan ini memanfaatkan neuron manusia hidup yang dikultur di laboratorium untuk merekonstruksi jaringan saraf dalam skala kecil, meniru kemampuan otak manusia dalam melakukan pemrosesan paralel dengan konsumsi daya yang sangat rendah.

Pour-Abbasi menjelaskan mekanisme kerja teknologi tersebut secara lebih rinci. "Dalam kultur ini, neuron-neuron membentuk sinapsis satu sama lain layaknya yang terjadi di dalam otak, lalu membangun jaringan saraf yang memiliki kapabilitas belajar. Proses inilah yang menjadi fondasi bagi pengembangan prosesor komputer berbasis sel otak," ujarnya dalam wawancara yang dilansir kantor berita Mehr pada 27 Juni 2026.

Dua keunggulan utama diklaim melekat pada teknologi ini. Pertama, kecepatan pemrosesan yang meningkat secara drastis berkat kemampuan jaringan saraf biologis memproses informasi secara paralel dengan cara yang tidak mampu ditiru oleh chip silikon. Kedua, efisiensi energi yang revolusioner — konsumsi daya dapat berkurang hingga satu juta kali lipat. Sebagai perbandingan, otak manusia hanya membutuhkan sekitar 20 watt untuk beroperasi, setara dengan sebuah lampu LED, sementara superkomputer tercanggih saat ini memerlukan daya dalam skala megawatt untuk menjalankan tugas-tugas serupa.

Pejabat tersebut menegaskan bahwa Iran bergerak sejajar dengan negara-negara maju dalam penguasaan pengetahuan teknis di bidang ini. "Pengetahuan teknis dari nol hingga seratus persen teknologi ini kini telah dikuasai di dalam negeri," klaim Pour-Abbasi. Meski demikian, ia mengakui bahwa jarak menuju tahap komersialisasi masih cukup jauh dan memerlukan perjalanan panjang sebelum menghasilkan produk akhir siap pasar.

Para pakar menilai bahwa pengembangan prosesor berbasis sel saraf berpotensi menantang "Hukum Moore" — prinsip yang selama puluhan tahun menjadi acuan peningkatan kapasitas komputasi industri semikonduktor. Jika berhasil dikembangkan secara komersial, teknologi ini dapat merevolusi berbagai sektor, mulai dari perangkat seluler hingga pusat data raksasa, serta membuka cakrawala baru bagi aplikasi kecerdasan buatan, pengenalan pola, dan komputasi kompleks.

Kendati demikian, sejumlah tantangan besar masih menghadang sebelum teknologi ini dapat diaplikasikan secara luas. Persoalan skalabilitas dalam memproduksi neuron secara massal dan konsisten, stabilitas jangka panjang jaringan saraf yang dikultur, serta penurunan biaya produksi agar mampu bersaing dengan chip silikon menjadi pekerjaan rumah utama yang harus diselesaikan. Pertanyaan besar yang tersisa adalah apakah Iran mampu mempertahankan momentum ini dan benar-benar mentransformasi pencapaian laboratorium menjadi produk teknologi yang siap bersaing di kancah global.