JAKARTA — Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Jamaludin Malik, menegaskan pentingnya penguasaan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional. Menurutnya, langkah transisi energi ini harus menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk membangun kemandirian industri masa depan.

Jamaludin menyoroti rencana pengembangan 93 proyek hidrogen di tanah air yang diproyeksikan menarik investasi hingga Rp32 triliun. Ia menekankan bahwa masuknya investasi bernilai fantastis tersebut wajib memberikan dampak nyata, seperti alih teknologi, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta penciptaan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal.

Apresiasi juga disampaikan kepada komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Jamaludin menilai, sinergi pemerintah dalam merintis ekosistem hidrogen harus dikawal agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar teknologi asing, melainkan bertransformasi sebagai produsen yang kompetitif di kancah global.

Potensi Indonesia dalam sektor ini dinilai sangat besar karena didukung oleh kekayaan sumber energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah. Wilayah panas bumi di Jawa, Sumatra, dan Lampung, serta potensi tenaga air raksasa di Kalimantan Utara dan Sulawesi, harus diintegrasikan dengan kawasan industri nasional melalui kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, BUMN, dan swasta.

Guna memastikan keberhasilan program tersebut, Komisi XII DPR RI berkomitmen untuk mengawasi ketat implementasi proyek hidrogen nasional. Jamaludin menyatakan bahwa keberhasilan industri ini tidak boleh hanya diukur dari angka investasi, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut dikuasai anak bangsa demi ketahanan energi jangka panjang.