Tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menginisiasi penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu sektor perikanan di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten. Inovasi ini dirancang khusus untuk memantau kualitas air tambak secara seketika (real-time) guna meminimalkan risiko kegagalan panen.

Selama ini, fluktuasi parameter air seperti suhu yang melonjak atau tingkat keasaman (pH) yang tidak stabil kerap menjadi kendala utama bagi para petambak setempat. Mengingat kualitas air merupakan pilar krusial dalam keberhasilan budidaya perikanan, kehadiran teknologi digital ini diharapkan mampu memberikan solusi preventif yang lebih cepat dan akurat.

Ketua Tim Pengabdian UPI, Luthfi Anzani, menjelaskan bahwa sistem ini bekerja dengan mengirimkan data dari sensor fisik di area tambak langsung ke platform pemantauan digital. Dengan demikian, petambak tidak perlu lagi melakukan pengukuran secara manual dengan mendatangi lokasi tambak yang sering kali luas atau jauh dari pemukiman.

"Kualitas air sangat menentukan keberhasilan budidaya. Jika ada perubahan kondisi air yang ekstrem, petambak harus segera mengetahuinya agar bisa mengambil tindakan penyelamatan dengan cepat," ujar Luthfi dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan digital ini membuat manajemen budidaya menjadi jauh lebih efisien.

Sistem pemantauan cerdas ini mengukur sejumlah indikator vital perairan, mulai dari suhu, kadar pH, oksigen terlarut (dissolved oxygen), hingga kandungan padatan terlarut (TDS). Seluruh informasi tersebut disajikan dalam sebuah dasbor digital yang mudah diakses oleh petambak melalui ponsel pintar maupun komputer.

Selain menyajikan kondisi terkini, platform berbasis IoT ini juga dilengkapi fitur penyimpanan data historis. Data rekaman tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengelola tambak untuk menganalisis pola perubahan kualitas air secara berkala, sekaligus merumuskan strategi mitigasi yang lebih baik di masa mendatang.