Kawasan wisata Senggigi di Kabupaten Lombok Barat tengah menghadapi kemerosotan serius di sektor industri hiburan. Asosiasi Hiburan Senggigi melaporkan bahwa saat ini hanya tersisa sekitar 15 tempat hiburan yang masih aktif beroperasi, turun drastis dari jumlah sebelumnya. Minimnya kunjungan wisatawan, persaingan dari tempat hiburan ilegal, serta gangguan lingkungan menjadi faktor utama di balik kondisi ini.
Ketua Asosiasi Hiburan Senggigi, Suhermanto, mengungkapkan bahwa sejumlah tempat hiburan yang dahulu ramai kini terpaksa menutup usahanya karena kehilangan pengunjung. Beberapa yang masih mampu bertahan antara lain Star, Marina, Mekar, Perdana, Green, Kenzo, Sea View, Margasari, dan Crystal. Bahkan salah satu di antaranya, Star, sempat menghentikan operasionalnya sebelum akhirnya kembali dibuka setelah lobi dari pihak asosiasi.
Situasi semakin diperumit dengan maraknya tempat hiburan di luar kawasan Senggigi yang beroperasi tanpa mengikuti ketentuan yang berlaku. Menurut Suhermanto, upaya penertiban oleh pemerintah daerah belum membuahkan hasil optimal. Tempat-tempat usaha yang telah ditindak kerap kembali beroperasi hanya dalam hitungan hari. Ia menduga ada oknum tertentu yang bermain di balik praktik tersebut.
Persoalan lain yang turut memperburuk keadaan adalah gangguan kebisingan dari kendaraan berknalpot brong yang melintasi Jalan Raya Senggigi. Suara bising tersebut telah berulang kali dikeluhkan karena mengganggu kenyamanan wisatawan yang menginap di hotel maupun bersantap di restoran sepanjang kawasan. Dampaknya secara langsung ikut memukul kelangsungan usaha tempat hiburan.
Untuk mengatasi masalah ini, asosiasi mengusulkan pemasangan rambu pembatasan kecepatan maksimal 60 kilometer per jam di sepanjang jalur Senggigi. Selain itu, mereka juga merekomendasikan pengalihan rute bagi komunitas otomotif melalui Pusuk Lestari menuju Kerandangan, sehingga aktivitas tersebut tidak mengganggu kenyamanan wisatawan yang berada di kawasan penginapan.
Lesunya sektor hiburan juga memicu perubahan kepemilikan di sejumlah tempat usaha. Beberapa nama seperti S-Bar, Planet, Star Kafe, dan Blue Safir telah berpindah tangan ke manajemen baru. Sementara itu, masuknya investasi segar ke Senggigi masih berjalan lamban karena para investor dinilai masih bersikap hati-hati dan cenderung skeptis terhadap prospek kawasan ini.
Meskipun demikian, Suhermanto menegaskan bahwa keberadaan tempat hiburan malam tetap menjadi elemen vital bagi ekosistem pariwisata Senggigi. Ia menyebut hiburan malam sebagai "urat nadi" kawasan tersebut karena terbukti mampu memperpanjang durasi menginap wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang kerap mengunjungi tempat hiburan untuk bersosialisasi.
Asosiasi Hiburan Senggigi mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk mempercepat penataan kawasan secara menyeluruh. Mereka juga mendorong penguatan konektivitas antara Senggigi dan destinasi sekitarnya seperti Monkey Forest, Pura Batu Bolong, dan Taman Wisata Alam Kerandangan yang dinilai belum dikelola secara maksimal. Suhermanto berharap ada komunikasi yang lebih baik antara pelaku usaha di lapangan dan pengambil kebijakan agar kebutuhan mendesak di kawasan wisata ini dapat segera ditangani.