Dewan Produktivitas Hong Kong resmi merilis data Indeks Bisnis Terkemuka UKM Hong Kong Standard Chartered untuk kuartal ketiga tahun 2026. Angka indeks tercatat mengalami kenaikan tipis sebesar 0,8 poin, sehingga menetap di posisi 44,1. Peningkatan ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika pasar yang menantang, dengan katalis utama berasal dari membaiknya situasi geopolitik dunia serta momentum masif dalam adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pertumbuhan yang paling signifikan terlihat pada sub-indeks Ekonomi Global yang melesat 12,2 poin hingga mencapai angka 33,1. Sektor perdagangan, baik impor maupun ekspor serta grosir, menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan lonjakan sebesar 15,6 poin, diikuti oleh sektor jasa profesional dan bisnis yang naik 15,3 poin. Meski demikian, para pelaku usaha tetap bersikap konservatif terhadap operasional jangka pendek, mengingat indeks kinerja keuntungan masih berada di angka 37,8.
Karen Fung, Chief Marketing Officer Dewan Produktivitas Hong Kong, menyoroti adanya perbaikan persepsi pengusaha terhadap prospek ekonomi eksternal. Namun, tantangan biaya tetap menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha. Sebanyak 64 persen UKM memprediksi adanya kenaikan harga bahan baku, sementara mayoritas pelaku usaha, atau sekitar 81 persen, masih memilih untuk menahan diri dari rencana kenaikan harga jual produk atau layanan mereka demi menjaga daya saing.
Di sisi lain, Senior Ekonom Standard Chartered untuk China Besar dan Asia Utara, Kelvin Lau, menjelaskan bahwa stabilitas harga minyak dunia pasca-gencatan senjata AS-Iran berperan krusial dalam menopang optimisme ini. Ia juga menekankan bahwa sekitar 70 persen ekspor Hong Kong sangat bergantung pada sektor elektronik dan AI. Sektor tersebut terbukti tahan banting dari turbulensi geopolitik, menjadikan fenomena 'siklus super AI' sebagai mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi lokal di tengah kondisi pasar global yang perlahan pulih.