Pasar keuangan di kawasan Asia diproyeksikan memulai perdagangan akhir pekan di zona merah. Tren negatif ini dipicu oleh gelombang aksi jual masif pada saham-saham sektor teknologi, khususnya produsen cip, yang sebelumnya telah menekan bursa saham Wall Street di Amerika Serikat akibat kekhawatiran atas tingginya nilai valuasi sektor kecerdasan buatan (AI).
Indikasi pelemahan terlihat dari pergerakan kontrak berjangka (futures) indeks saham acuan di Jepang dan Hong Kong yang menunjukkan tren penurunan. Sentimen negatif ini diperparah oleh proyeksi perlambatan pertumbuhan penjualan dari Netflix Inc., yang membuat saham raksasa penyedia layanan streaming tersebut merosot pada sesi perdagangan pasca-penutupan. Sementara itu, indeks S&P 500 cenderung bergerak stagnan di awal perdagangan Asia setelah sempat terkoreksi.
Kecemasan para investor bersumber pada valuasi saham sektor AI yang dianggap sudah terlampau mahal dibandingkan dengan realisasi keuntungan dari investasi besar-besaran yang telah digelontorkan. Kondisi ini tercermin dari anjloknya indeks saham produsen cip global hingga lebih dari 4 persen. Bahkan, proyeksi kinerja positif dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) tidak mampu mendongkrak harga sertifikat penitipan efek Amerika (ADR) miliknya karena kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan pengeluaran perusahaan.
Di tengah ketidakpastian pasar saham, komoditas minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) justru mencatatkan kenaikan tipis pada perdagangan Jumat pagi. Penguatan harga minyak ini didorong oleh tensi geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah, yang berdampak langsung pada terganggunya lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz.