Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kepekaan terhadap kondisi psikologis anak dan remaja. Tekanan pengasuhan serta lingkungan yang kurang kondusif ditengarai menjadi faktor utama pemicu gangguan kesehatan mental pada kelompok usia muda.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yuniarto, mengungkapkan bahwa gaya pengasuhan yang serba menuntut dan terlampau ketat kerap memosisikan anak dalam kondisi tertekan secara berkepanjangan. Guna mencegah dampak buruk pada tumbuh kembang anak, ia mendorong penerapan prinsip pengasuhan 'asah, asih, dan asuh' dalam lingkungan keluarga yang hangat.

Ia menekankan bahwa indikasi masalah mental pada anak sering kali samar dan sulit terdeteksi dini. Oleh sebab itu, perhatian dan kepedulian mendalam dari pihak keluarga menjadi kunci utama untuk mengenali perubahan emosional serta perilaku buah hati sedini mungkin.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, menjelaskan bahwa remaja berada pada fase transisi yang sangat rentan. Kerentanan ini dipicu oleh berbagai dinamika, mulai dari konflik internal keluarga, pergaulan sebaya, gaya hidup tidak sehat, hingga interaksi padat di media sosial.

Urgensi penanganan mental remaja kian mengemuka seiring munculnya insiden yang melibatkan seorang pelajar berusia 17 tahun di MAN 3 Kota Padang. Pelajar yang diduga merupakan korban perundungan tersebut nekad merakit dan memicu ledakan bom sederhana di lingkungan sekolahnya, sebuah tindakan nekat yang mempertegas bahaya laten perundungan serta pengabaian kesehatan mental anak.