Hyundai Motor Asia-Pacific mengungkapkan ketertarikan serius untuk mengembangkan industri daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari penerapan konsep Extended Producer Responsibility (EPR), yakni kebijakan yang menuntut produsen bertanggung jawab penuh terhadap seluruh siklus hidup produknya, mulai dari tahap produksi hingga pengelolaan limbah pascapakai.

Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Hyundai Motor Asia-Pacific dalam forum Indonesian Next-Generation Journalist Network yang digelar oleh Korea Foundation (KF) bersama Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Hyundai Motorstudio Goyang, Korea Selatan. Perwakilan tersebut menyoroti bahwa Indonesia hingga saat ini belum memiliki regulasi EPR yang secara spesifik menyasar industri otomotif.

"Seiring percepatan transisi menuju kendaraan listrik, di masa depan akan semakin banyak baterai bekas yang perlu dikelola. Hal ini menjadi peluang untuk membangun industri daur ulang baterai di Indonesia," ujar perwakilan Hyundai dalam kesempatan tersebut.

Pabrikan otomotif asal Korea Selatan itu menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air. Saat ini, Hyundai telah membangun rantai nilai EV yang terintegrasi secara menyeluruh di Indonesia, mulai dari produksi sel baterai, perakitan battery pack, hingga manufaktur kendaraan utuh. Produk EV buatan Hyundai di Indonesia bahkan telah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 80 persen berkat penggunaan baterai produksi lokal.

"Kami melihat peluang untuk melakukan investasi tambahan di masa depan, khususnya pada sektor daur ulang baterai," tambah perwakilan perusahaan tersebut.

Merujuk pada data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), total investasi yang telah dikucurkan Hyundai di Indonesia mencapai Rp22,8 triliun. Dana tersebut tersebar di tiga entitas bisnis utama, yakni Hyundai LG Indonesia (HLI Green Power) yang bergerak di sektor baterai, Hyundai Energy Indonesia (HEI) di bidang energi, serta Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) sebagai basis manufaktur kendaraan.

Rencana ekspansi Hyundai ke sektor daur ulang baterai dinilai strategis mengingat pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia yang terus menanjak. Dengan semakin banyaknya kendaraan listrik yang beredar, kebutuhan pengelolaan baterai bekas akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan, sehingga kehadiran industri daur ulang menjadi kebutuhan mendesak sekaligus peluang bisnis yang menjanjikan.