JAKARTA – Strategi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok kendaraan listrik dinilai perlu lebih adaptif seiring cepatnya perubahan teknologi baterai di pasar global. Hilirisasi nikel yang selama ini menjadi fondasi pengembangan industri kendaraan listrik nasional tidak cukup hanya bertumpu pada ekspansi investasi, tetapi juga harus mampu membaca arah kebutuhan teknologi dunia.

Peneliti Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Sigit Setiawan, mengatakan dinamika teknologi baterai berkembang sangat cepat. Menurut dia, kebijakan industri nasional perlu dirancang agar tidak tertinggal dari perubahan tersebut.

“Dari beberapa kali diskusi dengan para narasumber, banyak sekali teknologi baru yang muncul. Jangan sampai kebijakan kita terlambat beradaptasi dengan teknologi yang baru,” ujar Sigit dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (26/6/2026).

Berdasarkan hasil kajian BRIN, industri kendaraan listrik tidak bergerak menuju satu jenis teknologi baterai tunggal. Berbagai teknologi kini berkembang dengan keunggulan, karakteristik, dan segmen pasar masing-masing. Kondisi ini membuat persaingan di sektor baterai menjadi semakin terbuka dan tidak sepenuhnya bergantung pada satu bahan baku utama.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir mendorong pembangunan ekosistem kendaraan listrik berbasis nikel. Di saat investasi hilirisasi terus berjalan, pasar kendaraan listrik global maupun domestik mulai memberi ruang lebih besar bagi teknologi baterai lain yang tidak selalu menggunakan nikel sebagai komponen utama.

Sigit menilai pergeseran itu harus diantisipasi sejak dini. Ia menyebut Indonesia sedang membangun ekosistem industri EV berbasis nikel melalui hilirisasi, sementara perkembangan pasar mulai mengarah pada pilihan teknologi baterai yang lebih beragam.

Salah satu teknologi yang mulai mendapat perhatian adalah baterai sodium-ion. Teknologi ini memanfaatkan sodium atau natrium yang ketersediaannya relatif melimpah, sehingga berpotensi menawarkan biaya produksi lebih kompetitif untuk kebutuhan tertentu.

Selain sodium-ion, baterai solid-state, lithium ferrophosphate (LFP), dan lithium manganese ferrophosphate (LMFP) juga terus berkembang. Khusus LFP, penggunaannya meningkat karena dinilai memiliki biaya produksi lebih rendah, usia pakai panjang, serta tidak membutuhkan nikel sebagai material utama.

“Dominasi LFP dan perkembangan LMFP di segmen EV utama serta penyimpanan energi secara langsung dapat mengurangi permintaan nikel,” kata Sigit.

Perubahan arah teknologi baterai tersebut berpotensi berdampak pada investasi industri berbasis nikel yang telah dibangun. Jika tidak diantisipasi, risiko yang dapat muncul antara lain kelebihan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga nikel, hingga penurunan nilai aset industri.

Di sisi lain, peningkatan daya saing industri baterai nasional juga menghadapi tantangan teknis. Produksi baterai membutuhkan pasokan energi besar, standar manufaktur ketat, serta efisiensi biaya. Kondisi iklim tropis Indonesia turut menuntut pengendalian suhu dan kelembapan fasilitas produksi yang lebih cermat.

Tantangan itu semakin kompleks karena pasar global kini menuntut proses manufaktur yang lebih rendah emisi. Karena itu, pengembangan industri baterai nasional perlu disertai penguatan riset, inovasi, teknologi produksi, serta penggunaan energi rendah karbon.

BRIN menilai Indonesia perlu memperluas fokus pengembangan, tidak hanya pada baterai berbasis nikel. Penguasaan teknologi LFP, sodium-ion, pemanfaatan mangan, hingga pengembangan komponen pendukung seperti perangkat lunak dan sistem manajemen baterai juga menjadi bagian penting dalam membangun industri yang lebih tangguh.

“Yang dibutuhkan bukan hanya memperkuat satu komoditas, tetapi membangun ekosistem industri yang inovatif dan fleksibel. Jangan sampai kita hanya membangun industri untuk teknologi yang sudah mulai berubah. Yang harus dibangun adalah ekosistem yang mampu mengikuti perkembangan teknologi,” ujar Sigit.