Pasar telepon pintar (smartphone) global menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga komponen utama. Berdasarkan data terbaru IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker yang dirilis pada Selasa (14/7/2026), volume pengiriman smartphone global pada kuartal kedua tahun 2026 menyusut 6,7 persen secara tahunan (yoy) menjadi 277,5 juta unit. Penurunan ini dipicu langsung oleh kelangkaan dan meroketnya harga memori semikonduktor.

Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengungkapkan bahwa harga chip memori melonjak hingga hampir 300 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan drastis ini berdampak signifikan pada struktur biaya produksi (bill of materials), di mana komponen memori kini menyedot porsi hingga 65 persen dari total biaya pembuatan satu unit ponsel pintar di kelas pemula (entry-level). Kondisi tersebut mempersempit margin keuntungan dan menyulitkan para produsen yang bergantung pada volume penjualan ponsel murah.

Dampak dari gejolak harga chip ini mulai memukul sejumlah vendor besar yang memiliki portofolio kuat di pasar kelas menengah ke bawah, seperti Xiaomi, OPPO, dan Vivo. Ketiga produsen tersebut dilaporkan mengalami penurunan kinerja pengiriman pada kuartal ini akibat margin yang tergerus.

Sebaliknya, produsen yang fokus pada pasar premium justru berhasil mempertahankan tren pertumbuhan positif. Samsung kokoh memimpin pasar dengan total pengiriman diperkirakan mencapai 62,7 juta unit, tumbuh 8,1 persen secara tahunan. Di posisi kedua, Apple mencatat pertumbuhan impresif sebesar 15,3 persen yoy dengan mengirimkan sekitar 55,8 juta unit iPhone di seluruh dunia, membuktikan bahwa segmen premium lebih tangguh menghadapi guncangan harga komponen global.