Para pelaku pasar keuangan diminta untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas yang tinggi pada pekan mendatang. Berbagai sentimen kunci, mulai dari perkembangan eskalasi konflik di Timur Tengah hingga indikator makroekonomi dari negara-negara dengan ekonomi terbesar dunia, diprediksi akan menjadi penggerak utama pasar saham maupun nilai tukar.
Salah satu fokus perhatian utama tertuju pada upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Oman. Pertemuan tingkat tinggi ini bertujuan untuk membahas stabilitas jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz, yang sempat terganggu akibat rangkaian serangan militer. Meski proses diplomasi tengah berlangsung, ketidakpastian tetap membayangi menyusul pernyataan keras dari pihak Iran yang menuntut perubahan posisi kebijakan dari Washington.
Selain dinamika geopolitik, pasar juga akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat untuk bulan Juni 2026. Data ini sangat krusial karena menjadi acuan bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga ke depan. Risalah rapat FOMC terbaru menunjukkan adanya perbedaan pendapat di kalangan pejabat The Fed mengenai efektivitas kebijakan moneter saat ini dalam menekan inflasi yang masih terbebani oleh dampak tarif impor serta harga energi.
Di kawasan Asia, perhatian investor akan tertuju pada pengumuman pertumbuhan ekonomi China kuartal kedua tahun 2026. Konsensus pasar memproyeksikan perlambatan ekonomi di Negeri Tirai Bambu tersebut menjadi 4,4% secara tahunan (yoy). Perlambatan ini sejalan dengan analisis Asian Development Bank (ADB) yang menyoroti dampak berkepanjangan konflik Timur Tengah terhadap rantai pasok dan harga komoditas global, yang kini mulai menghambat laju pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik.