Dunia koleksi benda purbakala kembali diramaikan dengan rencana pelelangan kerangka Tyrannosaurus rex yang dikenal dengan nama 'Gus'. Spesimen langka ini dijadwalkan akan ditawarkan oleh rumah lelang Sotheby's pada 14 Juli 2026 mendatang dengan estimasi nilai mencapai 30 juta dollar AS, atau setara dengan Rp 542 miliar.
Angka tersebut menempatkan Gus dalam jajaran fosil termahal di dunia. Kendati demikian, pasar masih menantikan apakah Gus mampu melampaui rekor tertinggi yang saat ini dipegang oleh fosil Stegosaurus bernama 'Apex', yang terjual seharga 44,6 juta dollar AS pada tahun 2024 lalu. Tingginya minat kolektor kaya terhadap fosil menunjukkan pergeseran tren di mana benda sejarah kini menjadi aset bernilai tinggi layaknya karya seni.
Gus ditemukan di wilayah Badlands, South Dakota, Amerika Serikat, dan dinamai berdasarkan mendiang Gary 'Gus' Licking, pemilik lahan tempat fosil tersebut terkubur. Menurut Cassandra Hatton, Kepala Global Sejarah Alam di Sotheby's, spesimen ini sangat berharga karena 61 persen dari kerangkanya ditemukan dalam kondisi utuh. Analisis fisik menunjukkan bahwa Gus kemungkinan besar menjalani kehidupan yang keras, ditandai dengan bekas luka pertempuran pada tengkorak dan tulang rusuknya yang telah sembuh.
Proses penyelamatan fosil ini melibatkan kerja keras selama bertahun-tahun. Tim penggali menghabiskan tiga musim panas untuk ekskavasi di tengah cuaca ekstrem, disusul tiga tahun tambahan di laboratorium untuk rekonstruksi. Namun, maraknya komersialisasi fosil ini memicu kekhawatiran dari kalangan akademisi.
Profesor Susannah Maidment dari Natural History Museum London memperingatkan bahwa dominasi kolektor pribadi dalam pelelangan membuat museum kesulitan mengakses spesimen untuk kebutuhan riset. Menurutnya, ketika fosil jatuh ke tangan privat yang tertutup, objektivitas ilmiah menjadi terhambat karena para peneliti tidak dapat melakukan verifikasi mendalam terhadap temuan tersebut.
Di sisi lain, pihak rumah lelang berargumen bahwa keterlibatan kolektor privat sering kali menjadi penyelamat bagi spesimen yang mungkin rusak jika dibiarkan terkubur. Beberapa pembeli bahkan memilih untuk meminjamkan fosil koleksi mereka ke lembaga publik agar tetap bisa dinikmati oleh masyarakat luas dan dipelajari oleh para ahli, seperti yang dilakukan pemilik 'Apex' sebelumnya.