KAMPUNG DUMARING – Pemerintah Kabupaten Berau kembali menghidupkan geliat budaya lokal melalui pembukaan Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 di Kecamatan Talisayan. Mengusung tema "Menyulam Rindu, Menyemai Warisan", pergelaran tahun kedua ini melampaui sekat hiburan biasa dengan mengintegrasikan misi penyelamatan adat leluhur dan kampanye kelestarian lingkungan hidup.
Ketua Panitia FRD 2026, Nana Sumanah, menjelaskan bahwa festival ini berakar dari Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring. Program ini mengelola kawasan Hutan Desa seluas 5.141 hektare, Tanah Patiraja seluas 673 hektare, serta sempadan sungai seluas 661 hektare. Bagi masyarakat adat setempat, perlindungan alam tidak dapat dipisahkan dari upaya merawat memori kolektif dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Berbeda dari edisi perdana pada 2023 yang hanya berlangsung sehari, festival kali ini dirancang maraton selama hampir sebulan penuh sejak awal Agustus hingga malam puncak pada 5 September 2026. Rangkaian acara diisi dengan kirab budaya, lokakarya keterampilan tradisional bersama para tetua, eksibisi seni, hingga pasar rakyat yang menampilkan kuliner khas serta produk unggulan UMKM Dumaring guna mendorong ekonomi kreatif warga.
Momentum pelaksanaan FRD 2026 juga bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Sedunia. Perayaan ini menjadi ruang penting bagi sub-etnis Dayak Dumaring—yang berakar dari silsilah Dayak Baluy dan Dayak Asi'i—untuk kembali merangkul identitas historis mereka di tengah gempuran modernisasi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi festival ini. Pihaknya berharap Festival Rindu Dumaring dapat segera masuk ke dalam kalender acara resmi pariwisata daerah pada 2027 mendatang, guna menjamin keberlanjutan dampak ekonomi dan pelestarian nilai budaya bagi masyarakat Berau.