Dunia pasar modal Indonesia kembali menyoroti fenomena klasik yang kerap menghantui para pelaku investasi, yakni saham-saham yang terperosok ke level harga terendah Rp50 per lembar atau yang lazim disebut sebagai saham gocap. Harga ini merupakan batas bawah perdagangan di Bursa Efek Indonesia, sehingga saham yang sudah menyentuh level ini praktis tidak dapat turun lebih jauh lagi.

Kondisi tersebut menciptakan dilema besar bagi investor. Di satu sisi, harga yang sangat murah bisa tampak menggiurkan sebagai peluang beli. Namun di sisi lain, saham-saham yang sudah terdampar di level gocap umumnya mengalami stagnasi berkepanjangan dan sangat sulit untuk kembali menguat tanpa adanya katalis fundamental yang benar-benar kuat.

Salah satu nama besar yang kini terjebak dalam situasi ini adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Saham raksasa teknologi hasil merger Gojek dan Tokopedia tersebut telah menyentuh level Rp50 sejak Mei 2025. Penurunan harga saham GOTO ke titik terendah ini menjadi perhatian luas mengingat perusahaan sempat menjadi salah satu emiten paling dinantikan saat melantai di bursa beberapa tahun silam.

Para analis pasar modal menilai bahwa saham-saham gocap pada dasarnya sudah kehilangan daya tarik di mata investor institusional. Likuiditas perdagangan cenderung tipis, sementara risiko yang melekat tetap tinggi. Ketidakpastian prospek bisnis emiten menjadi faktor utama yang membuat pelaku pasar enggan mengambil posisi di saham-saham berbanderol terendah ini.

Bagi investor ritel yang masih mempertimbangkan untuk masuk ke saham gocap, kehati-hatian ekstra mutlak diperlukan. Tanpa perbaikan kinerja keuangan yang signifikan, aksi korporasi yang transformatif, atau sentimen pasar yang benar-benar mendukung, peluang pemulihan harga tetap sangat terbatas. Level gocap sering kali dijuluki sebagai "kuburan saham" karena banyak emiten yang pernah menyentuhnya tidak pernah berhasil bangkit kembali.

Keputusan untuk membeli atau justru meninggalkan saham gocap sejatinya bergantung pada analisis mendalam terhadap fundamental perusahaan. Investor disarankan untuk tidak sekadar tergiur oleh harga murah, melainkan mengevaluasi secara kritis apakah emiten bersangkutan memiliki rencana bisnis yang realistis dan jalur menuju profitabilitas yang jelas sebelum mengambil keputusan investasi.