Dominasi perusahaan teknologi Amerika Serikat dalam pasar kecerdasan buatan (AI) kini mendapatkan tantangan serius dari inovasi yang lahir di China. Tren terbaru menunjukkan bahwa berbagai korporasi di AS mulai beralih menggunakan model AI buatan China, seperti DeepSeek dan Z.ai, untuk mendukung operasional bisnis mereka. Langkah ini diambil bukan sekadar karena performa teknis, melainkan karena pertimbangan efisiensi biaya yang signifikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Data dari platform OpenRouter mencatat lonjakan drastis dalam penggunaan token model AI asal China oleh pengembang di AS. Pangsa pasar teknologi tersebut bahkan sempat menyentuh angka 46% pada Juli 2026. Analis menilai, model-model open-source dari China mampu menekan pengeluaran perusahaan hingga 60%-90% lebih murah dibandingkan menggunakan layanan premium dari raksasa AI asal Amerika seperti Anthropic atau OpenAI.
Fenomena ini didorong oleh perubahan prioritas di kalangan pelaku bisnis. Jika sebelumnya perusahaan hanya berfokus pada adopsi teknologi terbaru, kini mereka lebih cermat dalam mengelola anggaran operasional. Model open-source asal China memberikan keunggulan kompetitif berupa akses penuh terhadap 'resep' sistem, mulai dari parameter hingga kode pelatihan, yang memungkinkan perusahaan melakukan penyesuaian mandiri secara lebih fleksibel.
Sebagai contoh, startup AI bernama Lindy telah memindahkan seluruh trafik layanannya ke model DeepSeek, yang diklaim berhasil menghemat anggaran hingga miliaran dolar AS. Keunggulan performa model seperti GLM 5.2 yang mampu mendekati kemampuan model-model terdepan AS, meski dengan biaya yang jauh lebih rendah, menjadi daya tarik utama yang sulit diabaikan oleh para engineer.
Di sisi lain, peralihan ini terjadi saat pemerintah AS memperketat regulasi ekspor teknologi AI untuk membendung adopsi model asing. Namun, bagi banyak perusahaan, pilihan ini menjadi dilema antara tetap setia pada model eksklusif AS yang mahal atau beralih ke alternatif China yang lebih ekonomis dan terkendali. Para ahli memprediksi bahwa kesenjangan kemampuan teknologi antara AI China dan AS kini semakin menipis, hanya terpaut beberapa bulan saja, yang berpotensi memperkuat posisi tawar teknologi China di pasar internasional.