Perselingkuhan kerap meninggalkan jejak yang tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Pasangan yang berselingkuh sering kali menunjukkan perubahan sikap yang mencolok, mulai dari menjadi lebih tertutup, mudah tersinggung secara berlebihan, hingga tiba-tiba menunjukkan perhatian yang tidak biasa kepada pasangannya. Perubahan-perubahan inilah yang membuat orang di sekitarnya menilai bahwa pelaku perselingkuhan kerap bertindak tidak wajar.

Namun, menurut psikolog keluarga dr. Shirley Glass, tidak ada satu pola perilaku tunggal yang menjadi ciri khas semua orang yang berselingkuh. Glass menegaskan bahwa inti dari perselingkuhan bukanlah perubahan sikap tertentu, melainkan adanya unsur kerahasiaan yang secara fundamental melanggar komitmen dalam sebuah hubungan.

"Perselingkuhan adalah keterlibatan seksual, romantis, atau emosional yang dilakukan secara diam-diam sehingga melanggar komitmen dalam hubungan eksklusif," ujar Glass dalam wawancaranya dengan CBS News. Ia menekankan bahwa justru dimensi kerahasiaan inilah yang membedakan perselingkuhan dari hubungan pertemanan biasa.

Menyimpan rahasia besar dalam jangka waktu yang panjang ternyata berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis seseorang. Tekanan emosional yang terakumulasi akibat keharusan menjaga kerahasiaan secara terus-menerus pada akhirnya memengaruhi cara seseorang bersikap dan berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan pasangan resminya.

Menjalani perselingkuhan tidak sekadar menjalin kedekatan dengan orang lain. Pelakunya juga harus memastikan bahwa hubungan tersebut tetap tersembunyi dari pasangan. Hal ini berarti seseorang harus senantiasa mengingat rangkaian kebohongan yang telah dibangun, menyusun alibi yang konsisten, serta memastikan tidak ada jejak yang dapat menimbulkan kecurigaan. Seluruh proses ini membutuhkan beban mental yang sangat besar.

Psikolog Dylan Selterman, dalam ulasannya di Psychology Today, menguraikan bahwa pelaku perselingkuhan menerapkan berbagai strategi untuk menutupi hubungan rahasianya. Strategi tersebut mencakup penghapusan jejak digital, pembatasan frekuensi pertemuan dengan pasangan selingkuh, hingga upaya menampilkan diri senormal mungkin agar tidak memicu kecurigaan dari orang-orang terdekat.

Upaya penyembunyian yang berlangsung tanpa henti ini membawa konsekuensi nyata. Sebagian pelaku perselingkuhan tampak lebih gelisah dari biasanya, mudah mengalami kelelahan emosional, atau justru menarik diri dan menjadi jauh lebih tertutup dibandingkan kebiasaan sebelumnya. Selain itu, perubahan perilaku tersebut juga dapat dipicu oleh konflik batin atau yang dalam istilah psikologi dikenal sebagai disonansi kognitif, yakni kondisi ketika seseorang mengalami pertentangan antara nilai-nilai yang diyakininya dengan tindakan yang dilakukannya.