Kemenangan dramatis Argentina atas Mesir dengan skor 3-2 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Atlanta, Selasa lalu, kini tengah menjadi sorotan tajam dunia sepak bola. Alih-alih merayakan ketajaman lini serang Argentina, publik justru menyoroti keputusan wasit François Letexier dan intervensi VAR yang dinilai sangat menguntungkan tim asuhan Lionel Scaloni tersebut.

Kontroversi memuncak saat gol kedua Mesir yang dicetak Mostafa Zico dianulir oleh VAR karena pelanggaran ringan di fase build-up. Keputusan ini dianggap tidak konsisten oleh berbagai kalangan, mengingat insiden serupa yang melibatkan pemain Argentina justru dibiarkan berlalu tanpa tinjauan teknologi. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka mengecam hasil tersebut dan menyebut adanya ketidakadilan yang sistematis untuk memastikan bintang utama, Lionel Messi, tetap berada di turnamen.

Kecurigaan publik semakin menguat mengingat kedekatan hubungan antara Presiden FIFA, Gianni Infantino, dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Intervensi Trump sebelumnya terkait pembatalan sanksi pemain AS, Folarin Balogun, dinilai telah menjadi preseden buruk yang merusak kredibilitas netralitas FIFA. Pengamat sport business, Simon Chadwick, menyoroti bahwa insiden ini mencerminkan pengaruh politik global yang merembes ke lapangan hijau, di mana aliansi antara pemimpin negara seperti Javier Milei dengan Washington diduga turut memengaruhi dinamika turnamen.

Selain faktor geopolitik, isu dukungan politik terhadap Palestina yang kerap ditunjukkan oleh kubu Mesir turut memicu dugaan adanya bias tersembunyi. Kehadiran mega bintang seperti Messi juga dianggap sebagai komoditas ekonomi yang harus dilindungi demi menjaga keberlangsungan nilai komersial Piala Dunia 2026.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, pihak Mesir secara resmi telah mengajukan komplain kepada FIFA untuk menuntut investigasi menyeluruh atas kinerja wasit dan penggunaan VAR. Kini, integritas turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia ini sedang dipertaruhkan, menuntut transparansi penuh dari otoritas tertinggi FIFA demi mengembalikan kepercayaan para penggemar olahraga global.