Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan percepatan hilirisasi kelapa sawit tidak boleh terbatas pada industri skala besar saja. Sektor UMKM harus diberikan ruang yang lebih lebar agar mampu bertransformasi menjadi unit usaha yang inovatif, bernilai tambah tinggi, dan berdaya saing di kancah nasional.

Helmi Muhansyah, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, menyatakan bahwa penguatan sumber daya manusia dan adopsi teknologi merupakan kunci utama. Integrasi ini diharapkan dapat mendorong pelaku UMKM untuk menghasilkan produk turunan sawit yang lebih beragam dan berkualitas, sehingga mereka dapat naik kelas dalam rantai pasok industri.

Sebagai bentuk komitmen nyata, BPDP telah mengimplementasikan 52 program pengembangan UMKM hingga pertengahan tahun 2026. Inisiatif tersebut melibatkan kolaborasi lintas sektoral, mulai dari asosiasi petani, institusi pendidikan, hingga pondok pesantren. Fokus utama program ini meliputi peningkatan kapasitas manajerial, strategi promosi produk, serta penguatan posisi tawar UMKM di pasar yang lebih luas.

Atas kontribusi tersebut, BPDP meraih penghargaan Excellence Institution in Empowering Micro, Small, and Medium Palm Oil Enterprises dalam ajang 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026. Forum yang mempertemukan lebih dari 400 peserta ini menjadi wadah strategis untuk membahas inovasi, mulai dari otomatisasi berbasis AI, digitalisasi industri, hingga efisiensi energi yang relevan bagi pelaku usaha sawit.

Melalui sinergi antara teknologi dan pemberdayaan pelaku usaha, sektor sawit nasional diharapkan dapat menjadi pilar ekonomi yang kokoh. Transformasi ini menjadi langkah krusial dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di mana UMKM turut memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.