Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Utara kini memperluas cakupan layanan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak hanya untuk mendeteksi penyakit fisik, tetapi juga sebagai instrumen deteksi dini terhadap gangguan kesehatan jiwa. Inisiatif ini diambil menyusul temuan indikasi Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) yang mengalami gejala kecemasan dan stres pada sejumlah warga selama proses skrining berlangsung.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumut, Hery Valona Bonatua Ambarita, menekankan pentingnya intervensi sejak dini agar gejala stres situasional tidak berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih berat. Merujuk pada data Kementerian Kesehatan RI, diperkirakan sekitar 1,2 persen populasi Indonesia rentan mengalami kecemasan. Fenomena ini, menurut Hery, cukup dominan ditemukan pada kelompok remaja akibat tekanan akademis serta orang dewasa yang terhimpit beban ekonomi.
Sebagai langkah strategis, pemerintah provinsi telah menetapkan target skrining kesehatan jiwa bagi 22 ribu warga, di mana 67 persen di antaranya telah terealisasi hingga saat ini. Pendekatan yang dilakukan mencakup deteksi dini bagi ODMK serta pemberian layanan komprehensif bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), termasuk dukungan terapi intensif dan rujukan ke rumah sakit jiwa.
Di samping itu, Dinkes Sumut terus menggalakkan kampanye bebas pasung dengan memberikan pendampingan medis bagi 186 ODGJ yang tersebar di 33 kabupaten/kota. Melalui integrasi dengan sistem Universal Health Coverage (UHC) dan Program Berobat Gratis (PROBIS), masyarakat kini dapat mengakses pengobatan kejiwaan tanpa biaya, termasuk rawat inap hingga pemberian obat rutin yang krusial untuk pemulihan pasien.
Pihak Dinas Kesehatan mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melakukan praktik pemasungan. Gangguan jiwa ditegaskan sebagai kondisi medis yang dapat dikendalikan layaknya penyakit kronis lain seperti hipertensi atau diabetes, asalkan pasien mendapatkan penanganan yang tepat oleh dokter spesialis serta kepatuhan dalam menjalani pengobatan.