Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Papua Tengah, memperkuat jangkauan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil, khususnya daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Upaya itu dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan massal serta pengobatan langsung di Distrik Teluk Umar.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Silas Elias Numobogre, mengatakan pihaknya menurunkan belasan tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan selama dua hari di dua kampung, yakni Bawei dan Yeretuar. Kedua wilayah tersebut memiliki keterbatasan akses, sehingga tim kesehatan harus menempuh perjalanan menggunakan transportasi laut.

Menurut Silas, pelayanan pertama dilaksanakan di Kampung Bawei pada Senin (22/6). Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 134 warga menjalani pemeriksaan kesehatan dan memperoleh pengobatan sesuai keluhan yang ditemukan di lapangan.

Dari hasil pemeriksaan, tenaga kesehatan mencatat 51 kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA serta 40 kasus malaria. Keluhan yang paling banyak disampaikan warga antara lain demam, menggigil, batuk, dan flu, yang mengarah pada indikasi ISPA maupun malaria.

Silas menjelaskan, kondisi lingkungan Kampung Bawei yang masih didominasi pepohonan lebat, semak, dan rerumputan membuat tingkat kelembapan cukup tinggi. Situasi tersebut berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab malaria.

Untuk memastikan diagnosis, tim kesehatan melakukan pemeriksaan malaria menggunakan Rapid Diagnostic Test atau RDT. Warga yang dinyatakan positif langsung mendapatkan terapi awal, kemudian dijadwalkan menjalani evaluasi serta pengobatan lanjutan di Puskesmas Bawei setelah 14 hari.

Selain melakukan pemeriksaan dan pengobatan, Dinas Kesehatan Nabire juga menindaklanjuti informasi yang sempat beredar di media sosial mengenai dugaan wabah diare dan muntaber di Kampung Bawei. Berdasarkan pemeriksaan lapangan, tim tidak menemukan kasus diare maupun muntaber seperti yang ramai diinformasikan sebelumnya.

Kelompok warga yang paling banyak terpapar malaria di wilayah tersebut mencakup anak-anak, bayi, balita, pelajar, ibu hamil, hingga lanjut usia. Kondisi ini menjadi perhatian dinas karena kelompok tersebut tergolong rentan terhadap dampak penyakit menular.

Pada Selasa (23/6), pelayanan kesehatan dilanjutkan ke Kampung Yeretuar. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan warga di kampung tersebut juga memperoleh akses kesehatan secara langsung tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan.

Hasil pemeriksaan di Kampung Yeretuar juga tidak menemukan kasus diare maupun muntaber. Dengan demikian, kondisi kesehatan masyarakat setempat dinyatakan terpantau aman dari dugaan penyakit tersebut.

Silas menegaskan, pelayanan kesehatan bergerak ke wilayah terpencil akan terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memperluas akses kesehatan. Langkah ini juga ditujukan untuk mendeteksi penyakit lebih dini dan memastikan warga di kampung-kampung yang sulit dijangkau tetap mendapat penanganan medis.