Pemerintah Kota Pontianak resmi menunda gelaran bergengsi Pontianak Dragon Boat Race 2026 yang semula dijadwalkan berlangsung pada 28 hingga 30 Agustus 2026. Langkah krusial ini diambil menyusul penurunan kualitas udara akibat kabut asap tebal yang menyelimuti Kota Khatulistiwa. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa keselamatan serta kesehatan para atlet, panitia, dan masyarakat umum menjadi prioritas mutlak yang tidak dapat ditawar dalam ajang olahraga luar ruangan ini.
Sebagai bentuk kompensasi dan penjadwalan ulang, kejuaraan berskala internasional ini digeser ke tanggal 6 hingga 8 November 2026, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Jadi Kota Pontianak. Meski kompetisi ditunda, panitia tetap bergerak aktif menggelar aksi kemanusiaan berupa pembagian bantuan sembako bagi warga terdampak kabut asap. Selain itu, apresiasi khusus berupa medali kehormatan diberikan kepada para delegasi luar negeri asal Malaysia dan Brunei Darussalam yang telah telanjur tiba di lokasi.
Di sisi lain, semangat olahraga masyarakat Pontianak tetap membara melalui aksi heroik tiga pelari lokal yang melakukan misi lari estafet lintas negara sejauh 350 kilometer menuju Kuching, Malaysia. Thomas, Tju Hok Ui, dan Sutrisno yang tergabung dalam komunitas Uber Running Crew dilepas langsung oleh Wali Kota dari Pontianak menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, sebelum akhirnya menyelesaikan garis finis di Cat Statue, Sarawak.
Aksi lari jarak jauh bertajuk persahabatan ini dirancang dengan sistem estafet berkala setiap 60 menit atau setara 10 kilometer demi menjaga ketahanan fisik para pelari. Selain merayakan hari kemerdekaan, agenda ini juga menjadi medium diplomasi olahraga informal untuk mempererat hubungan bilateral di wilayah perbatasan, bekerja sama dengan komunitas lari Malaysia, Alpha Sport Event, serta perwakilan konsulat kedua negara.
Kemeriahan olahraga di tingkat akar rumput juga terpotret lewat pembukaan Turnamen Mini Soccer Bahasan Cup Seri 2 oleh Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan. Diikuti oleh 34 tim yang didominasi oleh perangkat kelurahan dan badan usaha daerah, kompetisi ini bertujuan mencairkan sekat komunikasi antara birokrasi pemerintah dengan warga setempat melalui interaksi langsung di lapangan hijau.
Berbeda dengan edisi perdana yang memperebutkan seekor sapi, turnamen kali ini menyajikan daya tarik baru berupa hadiah utama satu unit sepeda motor matik dan total uang tunai mencapai Rp50 juta. Melalui serangkaian agenda ini, Pontianak membuktikan bahwa aktivitas olahraga tidak hanya sekadar mengejar prestasi fisik, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen perekat sosial, diplomasi wilayah, serta kepedulian terhadap sesama.