Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan 13 Juli 2026 dengan catatan positif, menguat sebesar 0,5% dengan sepertiga emiten berhasil bertahan di zona hijau. Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap fundamental ekonomi makro Indonesia, kendati di balik angka tersebut, terdapat kekhawatiran mendalam mengenai integritas pasar di tengah kian dominannya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem perdagangan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khususnya dari Ketua Dewan Komisioner Mahendra Siregar, terkait pengaruh penggunaan algoritma *machine learning* terhadap volatilitas pasar. Ketiadaan transparansi mengenai bagaimana sistem otomatis ini beroperasi dalam hitungan milidetik menimbulkan risiko ketimpangan informasi yang nyata, terutama bagi investor ritel yang masih bergantung pada metode analisis tradisional.
Pengamat menilai bahwa kesenjangan akses teknologi antara investor institusional yang didukung AI dan investor ritel dapat memicu volatilitas ekstrem. Tanpa kerangka regulasi yang memadai, seperti kewajiban pengungkapan (*disclosure*) algoritma transaksi bernilai besar serta sistem pengawasan *real-time*, pasar modal Indonesia dinilai rentan terhadap risiko *flash crash* yang dipicu oleh pola otomatis yang tidak mempertimbangkan fundamental bisnis perusahaan.
OJK kini didesak untuk segera mengimplementasikan langkah strategis, mulai dari pembentukan *AI Transparency Framework*, penyediaan sistem pengawasan berbasis AI untuk mendeteksi manipulasi pasar, hingga edukasi literasi pasar modal yang lebih masif. Langkah-langkah ini dianggap krusial untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan pasar modal tetap inklusif dan stabil di tengah transformasi digital yang tengah berlangsung pesat di sektor keuangan Indonesia.