Jakarta sejak lama dikenal memiliki kekayaan seni budaya Betawi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan hari ulang tahun ibu kota. Jauh sebelum panggung megah dengan pertunjukan multimedia dan konser musik modern mendominasi, masyarakat Betawi telah menyuguhkan beragam kesenian tradisional yang bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga menjadi perekat kebersamaan antarwarga dari berbagai lapisan sosial.
Sebagian besar kesenian warisan leluhur itu masih dapat ditemui hingga saat ini, khususnya dalam festival budaya, perayaan HUT Jakarta, serta berbagai hajatan dan acara adat masyarakat Betawi. Berikut delapan kesenian khas Betawi yang dahulu selalu menjadi primadona dalam setiap pesta rakyat ibu kota.
Pertama adalah lenong, seni teater tradisional yang memadukan dialog, humor, musik, dan improvisasi dalam satu panggung. Pertunjukan ini mengangkat berbagai tema mulai dari kisah kehidupan sehari-hari, cerita kepahlawanan, hingga kritik sosial yang dikemas secara jenaka. Di masa lampau, lenong kerap dipentaskan semalam suntuk dan menjadi hiburan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat saat pesta rakyat maupun peringatan hari jadi Jakarta.
Kedua, tanjidor yang menjadi salah satu kesenian paling mudah dikenali dalam setiap perayaan Betawi. Ansambel musik ini didominasi alat musik tiup seperti trompet, klarinet, trombon, dan tuba, yang merupakan hasil akulturasi pengaruh musik Eropa pada era kolonial dengan budaya lokal Betawi. Dalam perayaan HUT Jakarta, alunan tanjidor biasanya mengiringi parade budaya, arak-arakan ondel-ondel, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Kesenian ketiga adalah gambang kromong, musik tradisional Betawi yang merepresentasikan perpaduan budaya Nusantara dan Tionghoa. Nama kesenian ini merujuk pada dua instrumen utamanya, yakni gambang dan kromong. Iramanya yang rancak dan menghentak menjadikan gambang kromong selalu hadir mengiringi tarian dan pertunjukan rakyat saat perayaan ulang tahun Jakarta, sekaligus menjadi simbol harmoni keberagaman budaya yang telah mengakar di ibu kota.
Keempat, topeng Betawi yang sejatinya bukan sekadar tarian biasa, melainkan pertunjukan kompleks yang menggabungkan seni tari, musik, lawakan, dialog, dan lakon drama. Pementasannya diawali tarian pembuka yang kemudian berlanjut pada adegan-adegan sarat pesan moral dan humor. Kesenian ini dahulu menjadi langganan panggung dalam pesta rakyat dan hajatan warga setiap kali Jakarta memperingati hari jadinya.
Kelima adalah rebana biang, kesenian musik Betawi yang tumbuh dari tradisi Islam. Menggunakan rebana berukuran besar sebagai instrumen utama, pertunjukan ini diiringi lantunan syair bernuansa religius. Kehadirannya dalam berbagai perayaan budaya Betawi bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mencerminkan kuatnya nilai-nilai keagamaan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Betawi sehari-hari.
Keenam, wayang kulit Betawi yang mungkin tak banyak diketahui khalayak luas. Berbeda dari tradisi wayang kulit di daerah lain di Pulau Jawa, wayang kulit Betawi menggunakan dialek lokal dalam dialognya serta diselingi humor yang akrab dengan keseharian warga Jakarta. Meski kini jumlah kelompok pementasnya kian menyusut, pada masa lalu kesenian ini cukup sering memeriahkan pesta rakyat ibu kota.
Ketujuh, silat Betawi yang bukan semata seni bela diri, melainkan juga tontonan yang menghibur dan memukau. Para pesilat menampilkan jurus-jurus andalan yang dipadukan dengan iringan musik tradisional dalam berbagai festival budaya. Atraksi ini kerap menjadi bagian dari pertunjukan palang pintu maupun parade budaya dalam rangka HUT Jakarta, sembari memperkenalkan nilai keberanian, sportivitas, dan penghormatan terhadap lawan.
Kedelapan, tradisi berbalas pantun yang tak pernah lekang dari budaya Betawi. Pantun biasanya hadir dalam pertunjukan lenong, prosesi palang pintu, maupun berbagai acara adat lainnya. Dengan bahasa yang ringan, menggelitik, dan sarat sindiran halus, pantun mampu menghidupkan suasana sekaligus menyisipkan pesan moral kepada penonton. Hingga kini, tradisi berbalas pantun masih kerap ditampilkan dalam berbagai festival budaya di Jakarta sebagai pengingat bahwa warisan budaya Betawi tetap hidup dan relevan.