Pemerintah Korea Selatan telah mengambil langkah diplomatik yang mendesak dengan meminta bantuan pihak Korea Utara untuk membantu pencarian seorang prajurit Angkatan Laut yang dilaporkan hilang saat menjalankan misi patroli, Minggu (12/7/2026). Upaya ini dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa prajurit tersebut terbawa arus hingga melewati Garis Batas Utara (NLL), batas maritim de facto yang memisahkan kedua negara.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan secara terbuka mengetuk pintu kemanusiaan Pyongyang melalui jaringan komunikasi internasional, dengan harapan pihak Utara dapat bekerja sama dalam menemukan dan memulangkan personel yang hilang tersebut. Langkah cepat ini dinilai sebagai upaya mitigasi agar tidak terulang tragedi memilukan pada September 2020, di mana seorang pejabat Korea Selatan tewas ditembak di perairan Korea Utara.

Berdasarkan keterangan resmi Angkatan Laut Korea Selatan, prajurit yang diketahui merupakan personel kelas satu tersebut terakhir kali terlihat di atas kapal fregat pada tengah malam. Keberadaannya mulai dinyatakan misterius saat ia gagal melapor untuk pergantian tugas pada pukul 08.00 pagi. Investigasi internal menunjukkan bahwa ia sedang bertugas di ruang mesin sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak di perairan yang berlokasi sekitar 50 kilometer di timur Geojin-eup.

Merespons situasi ini, Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back telah menginstruksikan operasi pencarian skala besar dengan mengerahkan sedikitnya 10 unit kapal dan pesawat terbang. Operasi ini turut melibatkan Penjaga Pantai serta koordinasi dengan kapal nelayan dan komersial yang beroperasi di wilayah tersebut. Pihak militer Seoul saat ini tengah mengerahkan seluruh sumber daya dan saluran komunikasi untuk memastikan keselamatan prajurit tersebut sebelum situasi di perbatasan memburuk.