Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IA Kedungpane Semarang melaksanakan pemeriksaan kesehatan berskala besar terhadap 780 warga binaan pemasyarakatan (WBP) guna mendeteksi secara dini sejumlah penyakit menular berbahaya, mulai dari HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), hepatitis B dan C, hingga gangguan kesehatan jiwa. Program ini merupakan kolaborasi antara Klinik Pratama Lapas Kedungpane dan tim medis Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Skrining tahap pertama telah dilaksanakan di Graha Pancasila Lapas Kedungpane pada Kamis (25/6/2026), dengan 130 narapidana dari Blok Citrawirya sebagai peserta awal. Proses pemeriksaan melibatkan tenaga medis profesional, didukung oleh jajaran struktural, petugas fungsional, serta Regu Pengamanan (Rupam) demi menjamin kelancaran, ketertiban, dan keamanan selama kegiatan berlangsung.
Kepala Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang, Ahmad Tohari, menegaskan bahwa layanan kesehatan merupakan hak fundamental yang tidak boleh diabaikan meskipun seseorang tengah menjalani hukuman pidana. Menurutnya, deteksi dini menjadi strategi krusial mengingat lingkungan lapas memiliki intensitas interaksi tinggi antarpenghuni, sehingga risiko penularan penyakit juga meningkat.
"Melalui skrining ini, kami ingin memastikan kondisi kesehatan warga binaan terpantau sejak awal. Bila ditemukan indikasi penyakit, penanganan medis dapat segera dilakukan secara cepat dan tepat. Ini bagian dari komitmen kami menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang sehat dan produktif," jelas Tohari.
Tohari menambahkan, program skrining tidak semata-mata berorientasi pada aspek kuratif, melainkan juga bersifat preventif untuk menunjang kualitas pembinaan narapidana secara keseluruhan. Ia berharap kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan budaya hidup sehat di lingkungan lapas sekaligus mendorong terwujudnya sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan responsif.
"Dengan kondisi kesehatan yang terjaga, proses pembinaan dapat berjalan lebih optimal. Pada akhirnya, warga binaan akan memiliki kesiapan fisik dan mental yang lebih baik ketika saatnya kembali berintegrasi dengan masyarakat," tutup Tohari.