Mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan Akademi Kesehatan (AKKES) Pemkab Aceh Utara mendatangi kawasan perkebunan kelapa sawit untuk mengidentifikasi habitat dan populasi nyamuk genus Anopheles, penyebar utama parasit malaria. Kegiatan lapangan ini dikemas dalam praktikum Pengendalian Zoonosis yang bertujuan memetakan potensi risiko penularan penyakit menular berbasis lingkungan di wilayah tersebut.
Kondisi ekosistem perkebunan sawit dengan genangan air tenang, kubangan bekas lintasan kendaraan berat, serta kelembapan udara yang tinggi merupakan tempat berkembang biak yang sangat ideal bagi nyamuk. Sebelum mengambil sampel, para mahasiswa membagi area pengamatan berdasarkan tingkat kelembapan dan kerapatan kanopi. Penelusuran dilakukan pada parit drainase, jejak traktor, hingga ceruk pelepah sawit yang menampung air hujan untuk mengukur densitas larva.
Selain menghitung populasi jentik, mahasiswa turut mengukur kualitas air di tiap titik sampel, mencakup keasaman (pH), suhu, kekeruhan, dan tingkat salinitas. Pengambilan nyamuk dewasa dilakukan saat malam hari memanfaatkan metode perangkap lampu dan umpan orang. Spesimen yang didapat kemudian disimpan dalam tabung berisi silika gel untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium menggunakan mikroskop stereoskopik demi mengidentifikasi morfologi sayap, palpus, dan probosis nyamuk.
Data yang diperoleh dari riset lapangan ini akan disusun menjadi rekomendasi penanganan lingkungan, seperti perbaikan jaringan drainase, pengeringan kubangan, hingga pengendalian larva secara biologis. Guna memberikan dampak langsung pada masyarakat perkebunan, para mahasiswa juga membagikan pamflet edukasi, melatih pembuatan perangkap nyamuk sederhana, serta menginisiasi pembentukan kader pemantau jentik mandiri.