Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya tengah merancang solusi pengelolaan sampah plastik di kawasan pesisir mangrove melalui penerapan teknologi pirolisis. Inovasi ini diarahkan untuk mengolah plastik yang sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai jual menjadi minyak bakar yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat pesisir.
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa persoalan sampah di area mangrove tidak hanya dipicu oleh kiriman dari aliran sungai. Saat air laut pasang, sampah juga terbawa arus masuk ke kawasan mangrove dan tersangkut pada akar-akar napas tanaman tersebut.
Menurut Agus, kondisi itu membuat proses pembersihan menjadi lebih rumit. Sampah yang menempel di sela akar mangrove kerap sulit dijangkau, sementara sebagian besar merupakan plastik rusak seperti kantong kresek yang tidak lagi memiliki nilai ekonomi.
“Kalau botol plastik masih ada harganya. Untuk sampah kresek yang rusak itu tidak ada nilainya, tetapi banyak mengambang dan tersangkut di mangrove. Yang tidak bernilai inilah yang ingin kami kumpulkan,” ujar Agus, Minggu (28/6/2026).
BRIDA Surabaya berencana melibatkan berbagai unsur, mulai dari perguruan tinggi, pelajar, komunitas, hingga masyarakat sekitar pesisir untuk mengumpulkan sampah plastik tersebut. Setelah terkumpul, sampah akan diproses menggunakan alat pirolisis hingga menghasilkan minyak bakar.
Agus berharap skema ini tidak hanya membantu membersihkan kawasan mangrove, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi nelayan. Saat tidak melaut, nelayan dapat ikut mengumpulkan sampah plastik, lalu hasil pengolahannya berupa minyak bakar dapat digunakan untuk kebutuhan bahan bakar motor tempel.
Meski demikian, pengembangan alat pirolisis tersebut masih menghadapi tantangan pembiayaan. Agus menyebut BRIDA masih mencari dukungan pendanaan agar proses penyelesaian dan penerapan teknologi itu dapat segera dilakukan.
Sekretaris BRIDA Kota Surabaya, Mamik Suparmi, menambahkan bahwa fokus pengolahan diarahkan pada jenis plastik berkualitas rendah yang selama ini sulit masuk rantai daur ulang. Berbeda dengan botol plastik yang masih dapat dicacah dan dijual, plastik rusak semacam kresek cenderung terabaikan dan menumpuk di lingkungan.
“Botol plastik masih punya nilai karena bisa dicacah dan didaur ulang. Plastik yang jelek-jelek ini yang tidak berguna, kami kumpulkan lalu dilakukan pirolisis sehingga kembali menghasilkan minyak,” kata Mamik.
Dalam pengembangan teknologi tersebut, BRIDA menggandeng Fakultas Teknik serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kolaborasi ini mencakup kegiatan riset sekaligus pengembangan alat pirolisis yang sesuai dengan kebutuhan penanganan sampah di Surabaya.
Selain inovasi pengelolaan sampah mangrove, BRIDA juga membuka ruang kerja sama riset melalui platform berbasis web BRIGHT atau BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training. Platform ini disiapkan untuk memfasilitasi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat yang ingin melakukan riset, magang, dan pengembangan inovasi dengan lokasi kajian di Kota Surabaya.
Mamik menyebut, kegiatan riset dan magang di BRIDA diharapkan dapat melahirkan gagasan baru yang berkembang menjadi inovasi terapan. Sejumlah karya mahasiswa magang juga telah dikembangkan bersama BRIDA dan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual untuk memperkuat daya saing lulusan saat memasuki dunia kerja.