CEO OpenAI, Sam Altman, memicu diskusi hangat di tingkat global setelah menyatakan bahwa peradaban manusia kini telah melangkah masuk ke dalam era singularitas kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Klaim kontroversial ini mempercepat perdebatan mengenai seberapa cepat perkembangan teknologi tersebut akan mengubah sendi-sendi kehidupan manusia dalam waktu dekat.
Berbicara dalam siniar (podcast) Relentless baru-baru ini, Altman mengungkapkan bahwa lompatan teknologi saat ini telah merealisasikan konsep-konsep futuristik yang sebelumnya hanya menjadi bahan diskusi teoritis di kalangan ilmuwan. Baginya, transisi menuju era singularitas—di mana mesin berpotensi melampaui kecerdasan manusia dan berkembang secara mandiri—bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas yang sedang berlangsung.
Istilah singularitas sendiri merujuk pada titik teoritis saat AI mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus tanpa intervensi manusia, menciptakan laju perkembangan yang sulit dipahami dan dikendalikan. Di ranah budaya populer, skenario ini sering kali digambarkan secara distopia, seperti dalam film Transcendence (2014) maupun Ex Machina (2015) yang menyoroti potensi lepas kendalinya kesadaran buatan.
Meskipun banyak pakar mengkhawatirkan risiko eksistensial dari lompatan teknologi ini, Altman tetap bersikap optimistis. Ia meyakini era baru ini akan membawa dampak positif yang masif bagi penyelesaian berbagai krisis global. Sudut pandang ini sangat kontras dengan pandangan tokoh industri lain seperti Dario Amodei, CEO Anthropic, yang secara konsisten menyuarakan pentingnya pengawasan ketat serta opsi untuk memperlambat pengembangan AI jika risikonya dinilai membahayakan manusia.
Polarisasi sudut pandang ini mencerminkan dinamika persaingan di Silicon Valley. Di saat OpenAI terus melaju kencang dengan produk-produk konsumen unggulannya seperti ChatGPT, desakan untuk menyusun regulasi keselamatan dan mekanisme penghentian darurat bagi AI super-cerdas justru semakin menguat demi mencegah skenario terburuk bagi peradaban.