Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat kemitraan ekonomi bilateral dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dalam sebuah pertemuan strategis dengan delegasi bisnis asal Negeri Tirai Bambu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendorong para pelaku usaha Tiongkok untuk memperluas ekspansi investasi mereka ke sektor-sektor bernilai tambah tinggi di tanah air.

Menko Airlangga menekankan besarnya potensi keuntungan bagi investor asing di Indonesia. Menunjuk laporan Japan External Trade Organization (JETRO), ia memaparkan bahwa sekitar 70 persen perusahaan asing yang menanamkan modal di Indonesia berhasil membukukan laba, membuktikan iklim investasi nasional yang sangat kondusif bagi pelaku usaha global.

Hubungan dagang kedua negara saat ini disokong oleh sejumlah kesepakatan penting seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Dengan fondasi tersebut, nilai perdagangan bilateral RI-RRT berhasil menembus angka kisaran 154 hingga 160 miliar dolar AS, didominasi oleh komoditas unggulan seperti nikel, batu bara, dan minyak sawit.

Guna menarik minat investor Tiongkok lebih dalam, pemerintah menawarkan beragam insentif fiskal yang menarik. Stimulus tersebut meliputi fasilitas tax holiday hingga 100 persen, tax allowance, hingga super tax deduction yang ditujukan untuk menyokong proyek inovasi dan pengembangan sumber daya manusia lokal.

Kerja sama ini mencakup berbagai sektor mutakhir. Di bidang otomotif, pabrikan asal Tiongkok seperti BYD dan Chery mulai menguasai pasar lokal. Sementara di sektor digital dan pendidikan, Indonesia menggenjot pengembangan pusat data dan semikonduktor, berdampingan dengan kolaborasi akademis bersama institusi bergengsi seperti Tsinghua University di Kawasan Ekonomi Khusus Bali.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga hubungan ekonomi yang saling menguntungkan ini. Menurutnya, Indonesia akan terus membuka pintu kolaborasi yang luas, tidak terbatas pada perdagangan konvensional, melainkan merambah ke transformasi teknologi dan ekonomi digital di masa depan.