Penanganan masalah sampah di Kota Batam mulai menarik minat serius dari berbagai investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Kendati demikian, Pemerintah Kota (Pemko) Batam menegaskan belum menyetujui satu pun proposal teknologi yang diajukan karena proses penjajakan saat ini masih berada pada tahap awal.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Dohar Mangalando Hasibuan, mengungkapkan bahwa ketertarikan ini datang dari berbagai entitas, termasuk Danantara Indonesia untuk pasar domestik, serta sejumlah investor asing asal Jerman, Norwegia, Denmark, hingga Tiongkok. Saat ini, para investor baru sebatas memaparkan kecocokan teknologi mereka dengan karakteristik sampah di Batam.

Menurut Dohar, belum ada keputusan yang diambil karena proposal pembiayaan proyek secara terperinci belum diajukan oleh pihak-pihak terkait. Pemko Batam memilih bersikap selektif untuk memastikan bahwa sistem pengolahan sampah yang diadopsi nantinya benar-benar efektif dan efisien secara jangka panjang.

Sembari mengevaluasi penawaran investasi, DLH Batam terus berupaya mengoptimalkan pengelolaan sampah dari sektor hulu. Strategi ini diwujudkan melalui penataan Tempat Penampungan Sementara (TPS) serta pengembangan TPS berbasis reduce, reuse, recycle (3R) secara bertahap di berbagai kecamatan untuk menekan volume residu yang dibuang langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Di sisi lain, Badan Pengusahaan (BP) Batam juga aktif menjajaki kerja sama serupa. Lembaga ini sempat menggelar diskusi dengan perusahaan asal Jepang, JFE Engineering, guna membahas potensi penerapan teknologi waste to energy (WtE) atau konversi sampah menjadi sumber energi listrik.

Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menekankan bahwa teknologi WtE bukan satu-satunya solusi tunggal. Ia menegaskan pentingnya membangun sistem tata kelola sampah yang terintegrasi secara menyeluruh—mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengangkutan, hingga pengolahan akhir—guna menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan di Batam.